Selasa, 17 Mei 2022

Sebuah jiwa yang baru saja meninggalkan tubuhnya, tiba-tiba diberi kesempatan kedua untuk dilahirkan kembali dalam tubuh seorang remaja 14 tahun bernama Makoto Kobayashi. Kesempatan yang kemudian harus ia ambil untuk menebus dosa besar yang pernah ia lakukan saat hidup di dunia.


Sebelumnya, tubuh Makoto yang asli sedang mengalami koma setelah mencoba bunuh diri dengan menelan obat hingga overdosis. Semasa hidupnya, Makoto dikenal sebagai anak muda putus asa, yang mengalami tekanan akademis dan juga penolakan sosial di lingkungannya. Mungkin tak jauh beda dengan karakter Holden Caulfield dalam The Catcher in the Rye.



Judul : Colorful
Penulis : Mori Eto
Penerbit : Baca
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Tebal : 278 hlm
ISBN : 978-602-6486-68-4

Aku adalah jiwa yang baru saja meninggalkan tubuhku. Di hadapanku tahu-tahu muncul malaikat bernama Purapura. Dia bilang aku berdosa besar sehingga sebenarnya tidak dapat lahir kembali. Namun, karena aku memenangkan undian, aku diberikan kesempatan kedua.

Pada kesempatan kedua ini, aku bersemayam di tubuh seorang bocah 14 tahun bernama Makoto Kobayashi yang mencoba bunuh diri. Aku kecewa dan kesal karena Makoto ternyata anak pengecut yang tak punya teman, keluarganya yang tampak baik-baik saja juga penuh kepalsuan. Namun, aku tidak peduli karena ini bukan kehidupanku yang sebenarnya. Aku berperilaku seenaknya tanpa peduli respons orang-orang di sekitarku.

Lama-kelamaan aku mulai menyimak isi hati Makoto yang sesungguhnya. Aku jadi menyadari kesalahpahaman Makoto terhadap orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya hidup Makoto tidak monoton, melainkan penuh warna. Aku ingin memanggil kembali jiwa Makoto ke tubuh yang sedang kupinjam ini demi mengembalikan Makoto kepada keluarga dan teman-temannya. Untuk itu, aku harus mengingat kesalahan yang telah kuperbuat pada kehidupanku yang lalu. Tinggal 24 jam sebelum batas waktunya. Apakah aku bisa berhasil?

Jumat, 13 Mei 2022

Tiara Andini - Self Titled (Universal Music Indonesia: 2021)

Sempat merilis mini album kolaborasi dengan Arsy Widianto yang diberi tajuk "ArTi untuk Cinta", Tiara Andini (self-titled) merupakan debut album solo dari Tiara Andini, penyanyi yang lahir dari ajang pencarian bakat paling populer di Indonesia, yakni Indonesian Idol musim ke-10. Album studio perdananya ini resmi dirilis pada 17 Desember 2021, berisi 8 lagu yang sebagian besar track-nya sudah pernah dirilis lebih dulu sebagai single terpisah.


Sebagai penyanyi yang bisa dibilang pendatang baru di kancah musik tanah air, kemunculan pertama kalinya saat mengikuti audisi Indonesian Idol, secara gamblang memang memperlihatkan kalau ia terinspirasi dan terinfluen dari penyanyi solo seniornya, yaitu Raisa Andriana. Baik dari karakter suara yang kata orang sama-sama husky, maupun dari segi kualitas teknik vokal.


Namun, setelah mendengarkan semua lagu yang ada dalam album debut Tiara Andini, rasanya kita akan otomatis melupakan sosok Raisa ataupun penyanyi perempuan lain. Ternyata Tiara sudah membangun rumahnya sendiri. Materi albumnya pun nyaris tak ada yang mengekor lagu-lagu dari musisi yang menjadi inspirasinya bermusik.

Senin, 14 Maret 2022

Ternyata tak perlu menjadi aktivis seperti Luis Sepúlveda untuk bisa menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup lewat karangan tulisan. Meskipun fiksi tak bisa mengubah realitas, tapi ia bisa memberi cerminan pada aspek yang sangat penting. Mungkin itulah yang menjadi gagasan Rizqi Turama saat menerbitkan kumpulan cerpen Yang Lebih Bijak daripada Peri.


Judul : Yang Lebih Bijak daripada Peri
Penulis : Rizqi Turama
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Tebal : 156 hlm
ISBN : 978-623-293-630-0


“Ayahmu telah jadi peri pohon tergagah, menjadi pemimpin dari peri-peri pohon yang lain.”
Wajah-wajah itu tersenyum dan membuat Marti kebingungan.
“Tapi…”
“Kami juga baru tahu bahwa hal ini bisa terjadi. Biasanya keluarga terdekat saja yang didatangi mimpi penjelmaan. Mungkin karena alam tahu bahwa kau akan merendah dan akan berbohong, mungkin dengan mengatakan bahwa ia hanyalah kunang-kunang. Maka, ia juga mendatangi kami dan memberi tahu mimpi yang sebenarnya.”

Senyum-senyum semakin mengembang. Marti baru memperhatikan tamu-tamu yang membawa begitu banyak bibit pohon untuk ditanam.

Marti tahu bahwa berkeras menyatakan yang sejujurnya hanya akan memperpanjang kerumitan, baik di hatinya maupun di mata warga. Sekuat tenaga, Marti menyeka air mata yang diterjemahkan warga sebagai air mata haru. Seketika terlintas di benaknya bahwa pohon-pohon pemberian warga akan lebih baik jika ditanam ulang di hutan larangan yang telah menggundul akibat ulah ayahnya. Marti tahu bahwa mungkin inilah waktu yang paling tepat untuk menjadi orang yang lebih bijak daripada peri.

Kamis, 10 Maret 2022

Beri saya waktu enam tahun maka akan saya rangkum problematika perjalanan manusia pada zaman kiwari.” Mungkin itulah yang disampaikan seorang penyanyi solo bernama Tulus pada Tahun 2016, saat ia merilis album musik terakhirnya, “Monokrom”.

Semua pendengar lagu-lagunya pastilah mafhum bahwa pria bernama asli Muhammad Tulus Rusydi itu merupakan seorang pengamat dan tukang curhat yang baik. Suatu hari ia pernah berjam-jam mengamati telapak kakinya, membandingkan sebelah kiri dan kanan, sebelum akhirnya menulis lagu tentang Sepatu. Bahkan ketika mengalami body shaming saat remaja, ia pun menulis lagu Gajah sebagai bentuk penerimaan dan self-healing. Meskipun pada akhirnya tetap termotivasi untuk diet sehat juga.