Senin, 16 November 2020

Dengan mudahnya akses terhadap film-film karya sineas lokal seperti sekarang ini, memang sudah selayaknya ada percakapan lebih lanjut tentang film di luar produksi gagasan. Dewasa ini film bukan hanya ditonton, tapi juga harus didiskusikan, sehingga ada pertukaran perspektif dan informasi.

Diskursus tentang film mungkin bisa mudah kita temukan dalam berbagai tulisan di media massa maupun elektronik, baik ditulis oleh penonton, pengamat, atau bahkan pegiat film itu sendiri. Namun, jika kita ingin mengetahui sejarah perfilman Indonesia terutama pascareformasi, mungkin tidak ada yang lebih pantas menuliskannya selain sutradara senior, penulis, kritikus, sekaligus dosen film sekaliber Garin Nugroho.

Garin sebagai salah satu pelopor kebangkitan film Indonesia di tengah krisis dekade 90-an, melalui buku memoarnya yang berjudul Era Emas Film Indonesia 1998-2019, mencoba menyusuri lorong waktu ingatan dari tiga dekade kiprahnya di dunia perfilman.⁣


Judul : Era Emas Film Indonesia 1998-2019
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Warning Books
Tahun terbit : September 2020
Cetakan : Pertama 
Tebal : 228 hlm
ISBN : 9786239330439

"Buku ini berbentuk mosaik kenangan-kenangan ensiklopedik Garin Nugroho tentang perfilman Indonesia. Menarik, karena Garin justru berangkat dari masa kini, perfilman Indonesia pasca-Reformasi 1998. Sang sutradara kugiran membingkai perfilman mutakhir kita dengan pengalamannya sejak kecil menikmati film dan tiga dekade lebih berkarya, menempatnya dalam sebuah peta perfilman global." - Hikmat Darmawan (kritikus & pengamat budaya popular)

Sabtu, 31 Oktober 2020


Film horor biasanya fokus terhadap dua hal: why people hurt one another, and what happens when we die. Mulai dari kisah tentang pembunuhan berantai, mayat hidup, pengabdi setan, kanibalisme, hingga monster-monster yang bisa berubah menjadi raksasa.

Yang harus disadari, sebetulnya film horor tidak menciptakan kekerasan dan kematian—sebab keduanya sudah eksis bahkan sebelum bioskop ada—mereka hanya mencerminkannya dalam gerak gambar.

Konsepsi horor terkadang secara emosional dan psikologis melibatkan ketakutan terbesar kita, terutama ketakutan kita akan kematian. Selain menjadi katarsis, film horor juga secara tidak langsung telah mengajak kita mempertanyakan tentang kemanusiaan kita sendiri.

Saat menonton film horor, kita sering kali latah berteriak di depan layar. "Jangan buka pintunya!" "Jangan pergi ke gudang bawah tanah!" "Jangan masuk ke hutan, goblok!" Tetapi dalam hati kecil, kita butuh sang tokoh untuk pergi ke sana, sebab kita pun ingin tahu ada apa di sana. Sebagian orang mungkin membenci perasaan takut, gelisah, bahkan tidak nyaman yang disebabkan menonton film horor. Padahal sebetulnya itulah esensinya, kita dilatih untuk melawan rasa takut itu. Teorinya begitu, kan?

Menariknya, saat ini perkembangan genre horor sudah semakin luas, bahkan cenderung mendorong batasan dan mengeksplorasi tema-tema kuno dengan cara yang lebih imajinatif. Coba saja googling, horor dewasa ini sudah banyak melahirkan sub-genre mulai dari horor aksi, horor komedi, horor psikologi, horor fiksi ilmiah, horor supernatural, atau yang lebih spesifik lagi seperti slasher, splatter, hingga zombie.

Sebagai sub-genre, film zombie pun bisa menghasilkan sub-genre lain seperti zombie comedy yang pada umumnya tampil sebagai black comedy. Sebut saja Shaun of the Dead (2004), Zombieland (2009), hingga Little Monsters (2019) yang semuanya sukses menjadikan paguyuban mayat hidup kehilangan harga diri di hadapan komedi. Belum lagi kita bicara tentang film berjudul Kamera o tomeru na! alias One Cut of the Dead (2017), salah satu mahakarya film zombie yang absurditasnya mungkin belum pernah kita temui dalam semua film komedi, film  zombie, film komedi-zombie, bahkan film komedi Jepang tentang zombie.

Pada akhirnya, membicarakan film horor tidak melulu tentang teror lagi. Horor dan ketakutan tidak harus selalu berada di satu garis lurus. Omong-omong soal takut, aku jadi ingat salah satu kutipan yang sampai sekarang cukup ampuh untuk dijadikan pedoman dalam menonton film horor bagi para pemula. 

"Hanya orang takut yang bisa berani. Karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya."


Menonton film horor, hmm siapa takut? 

Rabu, 19 Agustus 2020

Keiko Furukara adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi pegawai angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.⁣

Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tidak normal. Idealnya, pada usia matang tersebut ia sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket.⁣



Judul : Convenience Store Woman (Gadis Minimarket)
Penulis :  Sayaka Murata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2020
Cetakan : Pertama
Tebal : 164 hlm 
ISBN : 978-602-06-4439-4

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini...

Selasa, 19 Mei 2020

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa almarhum Stan Lee, yang dikenal sebagai co-creator karakter superhero populer seperti Hulk, Thor, Iron Man, dan X-Men, sebelum akhir hayatnya pernah menciptakan karakter superhero India pertama yang dikenal dengan Chakra: The Invincible.

Karakter itu pertama kali diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran komiknya yang berjudul sama pada tahun 2011. Lalu, dua tahun kemudian serial animasinya pun menyusul dirilis dan disiarkan di Cartoon Network India.


Chakra: The Invincible berkisah tentang seorang bocah laki-laki bernama Raju Rai yang berasal dari Mumbai, India. Bersama mentornya Dr. Singh, Raju berusaha mengeksplor kekuatan tubuh manusia dengan teknologi sains. Sampai akhirnya mereka pun berhasil merancang sebuah kostum yang dapat mengaktifkan kekuatan cakra di tubuh manusia.

Pada tahun 2016, tersiar kabar kalau Vikramaditya Motwane akan menyutradarai film live-action dari Chakra: The Invincible. Graphic India dan POW! Entertainment telah mengumumkan kemitraan dengan Phantom Films untuk memulai praproduksi film tersebut. Namun, sayangnya hingga Stan Lee wafat pada akhir tahun 2018, film itu belum juga selesai digarap. Pupus sudah harapan kita untuk melihat sang kreator menjadi cameo dalam film superhero ini.

Penundaan rilisnya Chakra: The Invincible, yang entah karena alasan apa, ternyata tidak membuat Sir Motwane mengubur impiannya membuat film superhero. Pada tahun 2018, ia telah menggarap film origin story superhero yang meskipun tidak sukses secara komersial, tetapi banyak mendapat ulasan positif.


Bhavesh Joshi Superhero, pemanasan dari Motwane

Film ini bermula ketika tiga sahabat yaitu Bhavesh (Priyanshu Painyuli), Siku (Harshvardhan Kapoor), dan Rajat (Ashish Verma) yang terobsesi menegakkan keadilan, membuat kanal "Insaaf TV" di Youtube untuk mengekspos perilaku negatif masyarakat di Kota Mumbai. Dalam konten daring itu, mereka ingin menegur sekaligus mempermalukan orang-orang yang melakukan kesalahan, mulai dari mereka yang melanggar rambu lalu lintas, membakar sampah di jalan, menebang pohon kota secara liar, atau sekadar pipis sembarangan.

Pada saat salah satu dari mereka dihadapkan dengan bobroknya birokrasi pembuatan paspor di sebuah Kantor Imigrasi, serta satunya lagi ingin membongkar konspirasi di balik kasus krisis air bersih bagi rakyat kecil, di saat itulah perlawanan yang sesungguhnya dimulai.

"How will we change this country?"
"With small steps."


Berbeda dengan film-film Vikramaditya Motwane sebelumnya yang mengangkat tema dan ide cerita sederhana seperti Udaan (2010), Lootera (2013), dan Trapped (2016), film ini lebih berani karena mengangkat isu sosial-politik yang sangat relevan, mengingat India memang dikenal sebagai negara paling korup se-Asia. 

Tentunya tak perlu muluk untuk mengomparasi Bhavesh Joshi dengan deretan nama karakter setenar Bruce Wayne, Peter Parker, atau Tony Stark. Sebab yang perlu dicatat, Bhavesh Joshi di sini telah mengembalikan esensi utama menjadi superhero, yaitu melawan ketidakadilan meskipun sadar bahwa risiko kegagalan amat besar.

Kalau mau menilik latar belakang sang superhero yang terlahir dari metode trial and error, bukan hanya mengandalkan mukjizat dari Tuhan atau tertolong canggihnya kostum buatan, film ini jelas terasa sangat humanis. Transisi karakter Bhavesh Joshi dari yang semula hanya vigilante bertopeng layaknya V for Vendetta atau Kick-Ass, yang maunya main hakim sendiri, lantas kemudian menjadi figur pahlawan pun sangat realistis dan beralasan.

Meskipun masih ditemukan beberapa lubang plot, film ini telah berhasil membawa angin segar bagi perfilman India khususnya di ranah Bollywood. Rasanya sudah tidak perlu berekspektasi lebih dari ini, apalagi mengingat bagaimana gelinya penonton ketika dulu dihadirkan sosok Ra.One, Krrish, atau A Flying Jatt.


Nasib Chakra: The Invincible berada di tangan yang tepat

Meskipun film-film Motwane secara keseluruhan berbeda tema, tapi semuanya memiliki satu kesamaan. Semua karakter dalam filmnya adalah orang-orang yang terperangkap: Rohan berada di rumah dengan seorang ayah yang otoriter dalam Udaan; Pakhi dan Varun terkungkung oleh pilihan hidup dan lingkungan sosial mereka di Lootera; Shaurya terperangkap secara harfiah dalam Trapped; dan Siku yang harus menyatu dengan semangat Bhavesh Joshi.

"Saya suka film-film yang mendapatkan penyadaran di akhir—semacam momen pelarian," kata Motwane dalam suatu wawancara. "Saya merasa ini berasal dari kenyataan bahwa para pahlawan saya selalu tampak ayal, hingga kemudian mereka mendapat kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya mereka miliki selama ini."

Yang disebut oleh Motwane di atas tentu saja tipikal narasi kepahlawanan yang superklasik, tapi seharusnya bisa jadi modal yang sangat berguna ketika pada akhirnya ia benar-benar menghadirkan Chakra versi nyata ke hadapan kita.

______
Referensi:

Senin, 30 Maret 2020

Ketika membicarakan sejarah film nasional, mungkin nama yang akan terus kita ingat adalah Usmar Ismail, sebab ialah pelopor perfilman Indonesia. Setiap tanggal 30 Maret telah dicatat sebagai Hari Film Nasional untuk memperingati hari pertama proses pengambilan gambar film Darah & Doa (1950) atau Long March of Siliwangi yang disutradari olehnya. Namun, jika kita membicarakan sosok yang bisa dibilang paling berjasa melestarikan dokumentasi perjalanan film Indonesia maka nama itu pastilah Misbach Yusa Biran.

Sebut saja latah, tapi aku mulai tertarik 'mengenal' sosok beliau ketika suatu hari di tahun 2018 tidak sengaja melihat Sherina Munaf memberikan ulasan singkat setelah menuntaskan membaca buku karya Pak Misbach di akun Instagram-nya. Tentu saja buku-buku itu sudah langka, bahkan Sherina mengaku dipinjamkan koleksi buku omnya, Riri Riza. Makanya boleh dibilang mujur ketika beberapa waktu lalu aku berhasil menemukan "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" sekaligus di library Gramedia Digital.


Berkenalan dengan Pak Misbach dari buku yang ia tulis, alih-alih dari film yang ia sutradarai, rasanya memang agak canggung. Apalagi setelah tuntas membaca kedua buku tersebut, ternyata isinya bukanlah tentang film, melainkan hanya kumpulan nukilan kisah di balik aktivitas seni pembuatan film yang digeluti Misbach Yusa Biran dalam medio tahun 1950-an.

Meskipun begitu, aku terpaksa harus mengamini apa yang dikatakan Sherina dalam ulasannya bahwa Pak Misbach memang storyteller yang keren. Tulisan beliau effortlessly dan sangat jenaka. Membaca  "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" jadi terasa penting karena secara tak langsung Pak Misbach telah menangkap gelagat perfilman Indonesia dari zaman ke zaman lewat tulisannya, bahkan masih sangat relevan dibaca puluhan tahun kemudian setelah diterbitkan pertama kali pada 1971 dan 1973.

Seno Gumira Ajidarma

Lewat tulisan-tulisannya, Pak Misbach semakin mempertegas bahwa selain dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, sastrawan, hingga gelar kehormatannya sebagai juru selamat arsip film Indonesia, ia adalah pengamat yang jeli atas kehidupan para 'seniman' di Pasar Senen pada masa itu.

"Film bisa mengemban suatu pesan yang penting," kata Pak Misbach dalam potongan wawancara beliau di film dokumenter berjudul Behind the Flickering Light (The Archive) yang dirilis pada tahun 2013. Film dokumenter karya sutradara Hafiz Rancajale itu merupakan bentuk penghormatan kepada Alm. H. Misbach Yusa Biran, yang dianggap sebagai salah satu tokoh sentral dalam sinema Indonesia modern. 


Bagi Pak Misbach, arsip film adalah rekaman kehidupan modern yang paling akurat

Rasanya film tentang 'Sang Arsip' tersebut penting untuk ditonton agar mengenal lebih jauh sosok Pak Misbach sebagai tokoh kontroversial dalam pergerakan budaya dan politik Indonesia. Di situ juga dikorek sisi-sisinya yang lain sebagai salah satu pendiri Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebagai bocah nakal dari Lebak, Jawa Barat, dan juga sebagai seorang suami dan ayah.

Film itu juga mencoba membaca gagasan pengarsipan film dalam pikiran Pak Misbach yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk membangun lembaga pengarsipan film yang kita kenal dengan Sinematek Indonesia pada tahun 1975.

Riri Riza

Saat itu, ia memutuskan berhenti menjadi sutradara dan memilih untuk menjadi seorang arsiparis film. Di Sinematek, Pak Misbach menyusun dokumentasi film Indonesia sejak mula, termasuk menemukan dan menyimpan film-film lama dari awal sejarah perfilman Indonesia tahun 1920-an. Melalui pemikirannya, Sinematek Indonesia lahir dan menjadi arsip film pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran Sinematek tidak dapat dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga sebagai pelestarian ide-ide dan wacana dalam perjalanan sinema Indonesia.

_____________

Misbach Yusa Biran lahir di Rangkasbitung, Banten, 11 September 1933. Ia adalah suami dari aktris senior Nani Wijaya dan ayah kandung dari aktris muda pemeran "Ronaldowati" yang sempat jadi perbincangan hangat pada circa tahun  2004, yaitu Almh. Sukma Ayu.

Sabtu, 29 Februari 2020

Pada tahun 1971, kalangan wartawan pernah mengalami kebuntuan saat mencari padanan “relax” dalam bahasa Indonesia. Ternyata kata “santai” yang kita gunakan saat ini pertama kali dicetuskan oleh Bur Rasuanto, penanggung jawab rubrik ekonomi majalah Tempo ketika itu. Ia mengusulkan “santai” untuk padanan “relax” yang diserap dari bahasa Komering di Sumatera Selatan, kampung asal puaknya Bur.⁣

Wawasan di atas hanya secuil ihwal menarik yang kucatat setelah menamatkan kumpulan prosa nonfiksi dan reportase pertama yang dibukukan oleh Dea Anugrah, yang lebih dulu dikenal sebagai penulis fiksi cerita pendek maupun kumpulan puisi.⁣



Judul : Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Penulis : Dea Anugrah
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : 2019
Cetakan : Ketiga
Tebal : 181 hlm
ISBN : 978-602-1318-81-2


Dea Anugrah menulis puisi, kemudian cerita pendek, terutama untuk menghibur diri. Ketika buku-bukunya—Misa Arwah (2015) dan Bakat Menggonggong (2016)—terbit, dia bersiap dihajar komentar-komentar keji dan laporan penjualan yang mengenaskan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: buku-buku itu diterima dengan baik.

Buku ini adalah bunga rampai nonfiksi pertamanya. Ia membicarakan mulai dari perang sampai industri pisang, dari kesedihan kolektif sebuah bangsa hingga seni membikin senang bagian tubuh tertentu.



Minggu, 05 Januari 2020


Sebetulnya cukup sulit untuk membuat daftar film terbaik karena 1) rasanya agak mustahil untuk menonton semua film dan 2) film yang menurut orang lain terbaik pun belum tentu aku tonton. Jadi, alih-alih membuat daftar film terbaik, aku lebih senang menyebut ini sebagai daftar film favorit dan paling berkesan yang ditonton sepanjang tahun 2019. Maksudku, film yang benar-benar dirilis pada tahun yang sama.

Here are 19 of the best and most memorable movies of 2019!



19. SYNONYMS (SYNONYMES)
Seorang pemuda Israel bernama Yoav kabur dari negara asalnya demi mencari kebebasan di Prancis. Demi mengaburkan identitas aslinya, ia menolak menggunakan bahasa Ibrani dan mati-matian belajar bahasa Prancis dengan panduan sebuah kamus saku serta bantuan dua teman yang ditemuinya kemudian. Konflik nasionalisme yang disampaikan dengan sangat menyentil.




18. THE SOUVENIR
Julie, seorang mahasiswa jurusan film terlibat kisah asmara yang rumit dengan seorang pria yang lebih dewasa bernama Anthony. Dengan alur yang sangat pelan, film ini berhasil memotret transisi hidup seorang Julie dan seakan-akan ingin berpesan kepada kita untuk berhati-hati dalam memilih pasangan.




17. THE TWO POPES
Di balik ornamen religi dan tema Katolik yang diangkat, ini adalah film yang humanis dan bisa dinikmati secara universal. Lewat dialog-dialog jenaka antara dua karakter Paus dalam film ini, kita akan belajar banyak tentang ritual hingga beban-beban masa lalu yang harus ditanggung para pemuka agama berjubah di balik gedung vatikan.




16. BOOKSMART
Dua gadis remaja, Molly dan Amy ialah bintang sekolah yang populer berkat kepintaran dan prestasi akademik mereka di SMA. Namun pada saat pengumuman kelulusan, keduanya menyadari bahwa selama ini waktu mereka hanya dihabiskan untuk belajar. Sepasang sahabat itu pun akhirnya mencoba merangkum keseruan masa sekolah dalam waktu satu malam. Drama komedi coming of age yang kembali mengingatkan kita betapa pentingnya menikmati hidup dengan mencari berbagai pengalaman baru.




15. KIM JI-YOUNG, BORN 1982
Diangkat dari novel karya Cho Nam-joo, buku fiksi terlaris sepanjang masa di Korea Selatan yang sempat menjadi perbincangan hangat karena dianggap berani mengusung isu feminisme di tengah kentalnya budaya patriarki. Film drama yang mengajak kita membuka mata lewat gambaran depresi yang dialami Kim Ji-young akibat akumulasi dari tekanan praktik misoginis dalam lingkungannya.




14. FORD v FERRARI
Diadaptasi dari kisah nyata persaingan dua raksasa produsen mobil, film ini merujuk pada upaya Ford Motor Company untuk mengalahkan pesaingnya, Ferrari, di ajang Les Mans 1966. Selain memanjakan mata melalui visual balapan mobil yang tampak nyata, film ini juga dibalut dengan sentuhan drama penuh emosi yang terinspirasi dari kisah persahabatan Shelby and Miles yang diperankan dengan sangat apik oleh dua aktor papan atas, Christian Bale dan Matt Damon.



13. MIDSOMMAR
Tampaknya hanya Ari Aster yang mampu membuat film roman dibalut aspek horror-thriller yang sangat mencekam kendati didominasi latar suasana yang terang benderang di siang hari. Pengalaman menonton yang disturbing, aneh, tetapi diakhiri dengan aftertase yang memuaskan.




12. PEANUT BUTTER FALCON
Film perjalanan dengan poin pembelajaran tentang sikap peduli dan rasa empati. Mengisahkan seorang pria 22 tahun pengidap down syndrom yang mencoba mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pegulat profesional. Menghibur sekaligus menghangatkan hati.



11. DARK WATERS
Media massa pernah dihebohkan dengan kabar bahwa teflon bisa menyebabkan kanker. Film ini mencoba mengangkat kisah yang mengusik kemanusiaan itu lewat karakter seorang pengacara yang menggugat kelompok kapitalis di balik perusahaan raksasa sekelas DuPont.




10. JOJO RABBIT
Drama komedi satire berlatar belakang Perang Dunia II. Tentang bocah berumur 10 tahun berdarah Jerman, Johannes alias Jojo yang sangat terobsesi dengan Nazi sampai-sampai ia memiliki teman imajiner dalam wujud Adolf Hitler. Seperti biasa, Taika Waititi tidak pernah gagal menghadirkan tontonan yang quirky dan menghibur.



9. THE FAREWELL⁣⁣⁣⁣
Drama keluarga yang berakar pada realitas kehidupan, kematian, dan segala yang menyertainya. Sebuah keluarga besar terpaksa melakukan 'reuni' berkedok pernikahan agar bisa pulang kembali ke Cina untuk bertemu dengan seorang nenek yang disapa Nai-Nai untuk terakhir kalinya, setelah mengetahui bahwa sang nenek telah didiagnosis mengidap kanker paru-paru stadium 4. Film indie ini merupakan perayaan cinta keluarga yang tulus menembus bahasa, benua, dan generasi.⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
8. PORTRAIT OF A LADY ON FIRE ⁣⁣⁣
Ketika seorang pelukis disewa untuk membuat potret lukisan seorang wanita bangsawan, romansa ganjil pun terjadi di antara keduanya. Drama histori asal Prancis yang membawa perspektif baru dalam sinema bertema queer. ⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


7. THE LIGHTHOUSE ⁣⁣⁣⁣
Di tengah tekanan kesepian di pulau terpencil, dua pria penjaga mercusuar mulai merasa sesat akal. Drama psikologi dengan visual hitam putih dan rasio layar mendekati 1:1 yang memberi pengalaman sinematik berbeda. ⁣⁣⁣Film yang sarat ambiguitas dibalut kesan mistis.
⁣⁣⁣⁣


6. SEVENTEEN (DIECISIETE) ⁣⁣⁣⁣
Demi mencari seekor anjing terapi, seorang remaja berusia 17 tahun rela kabur dari pusat penahanan dan rehabilitasi. Film Spanyol ini mungkin berada di luar radar tontonan banyak orang, tapi dijamin ini adalah road-movie yang unik, jenaka, dan menyenangkan.⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
5. JOKER⁣⁣⁣⁣
Todd Phillips berhasil menggambarkan studi karakter seorang badut hiburan bernama Arthur Fleck yang bertransformasi menjadi super-villain akibat represi dari lingkungan yang penuh perundungan. Totalitas performa Joaquin Phoenix adalah bentuk penghormatan paling tinggi untuk Joker versi Heath Ledger.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


4. US⁣⁣⁣⁣
Memadukan genre horor dengan kritik sosial mengenai diskriminasi dan stereotip terhadap ras kulit gelap, Jordan Peele kembali menyajikan horor psikologis yang mengekor kesuksesan Get Out. Film ini banyak menumpuk pertanyaan alih-alih memberi konklusi jelas, tapi itulah sisi menariknya. Dengan banyaknya aspek yang penuh simbolis dan metaforis, film ini ingin merepresentasikan dualisme dalam kehidupan bahwa akan selalu ada hal yang persis dan saling bertentangan. ⁣⁣⁣⁣


⁣⁣⁣⁣
3. KNIVES OUT⁣⁣⁣⁣
Ide cerita, skenario, hingga akting jajaran aktor kelas A membuat film ini menjadi drama misteri pembunuhan yang sangat berkesan. Fan service untuk pencinta film bertema detektif dengan plot twist berlapis ala ratu misteri, Agatha Christie. Selamat datang, Benoit Blanc!

⁣⁣⁣⁣

2. MARRIAGE STORY ⁣⁣⁣⁣
Mengusung judul yang sangat ironis, ini adalah film tentang kisruh perceraian antara pasangan suami-istri yang harus berpisah akibat pertentangan ego yang cukup rumit. Film drama yang sebetulnya sederhana, tapi mampu menohok penonton dengan tepat sasaran. Diperankan dengan intens dan begitu emosional oleh duet Adam Driver & Scarlett Johansson.⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣


1. PARASITE⁣⁣⁣⁣ (GISAENGCHUNG)
Tragicomedy dari salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Film garapan Bong Joon-ho ini berhasil menyampaikan kritik lewat kontras kelas sosial para tokohnya. Selain disampaikan dengan narasi subtil yang penuh alegoris perihal isu kapitalisme dan hierarki sosial terutama di lingkungan masyarakat Negeri Ginseng, film ini juga digarap dengan aspek teknis yang nyaris sempurna. Meskipun sedari awal film ini banyak menyuguhkan komedi situasional, pada akhirnya penonton pun akan dihadapkan dengan konklusi cerita yang membungkam tawa. Jelas sekali, ini adalah film yang sangat brilian!⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
________________________

Dari daftar film di atas, apakah ada yang termasuk film favorit kalian? Bagi pendapatmu di kolom komentar, ya!

Rabu, 30 Oktober 2019

Novel ini berangkat dari sebuah cerita horor yang sempat viral melalui thread—tweet berseri atau secara baku bisa disebut utas—di media sosial Twitter. Ditulis oleh seseorang di balik akun bernama SimpleMan.⁣⁣


Judul : KKN di Desa Penari
Penulis : Simpleman
Penerbit : Bukuné
Tahun terbit : September 2019
Cetakan : Pertama
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-220-333-9


Saat motor melaju kencang menembus hutan, Widya mendengar tabuhan gamelan. Suaranya mendayu-dayu dan terasa semakin dekat. Tiba-tiba Widya melihat sesosok manusia tengah menelungkup seakan memasang pose menari. Ia berlenggak-lenggok mengikuti irama musik gamelan yang ditabuh cepat.

Siapa yang menari di malam gulita seperti ini?

Tiga puluh menit berlalu, dan atap rumah terlihat samar-samar dengan cahaya yang meski temaram bisa dilihat jelas oleh mata. “Mbak… kita sudah sampai di desa.”

____________

Dari kisah yang menggemparkan dunia maya, KKN di Desa Penari kini diceritakan lewat lembar-lembar tulisan yang lebih rinci. Menuturkan kisah Widya, Nur, dan kawan-kawan, serta bagian-bagian yang belum pernah dibagikan di mana pun sebelumnya.