Jumat, 07 Oktober 2022

Ada tiga prinsip yang bisa dipegang agar kita hidup bahagia. Setidaknya, itu yang dikatakan oleh seorang biksu Zen bernama Haemin Sunim dalam bukunya yang sangat populer, The Things You Can See Only When You Slow Down (멈추면 비로소 보이는 것들).

Pertama, kita harus sadar bahwa orang-orang tidak sepeduli itu dengan diri kita. Kedua, tak semua orang harus menyukai diri kita sebab kita pun mustahil menyukai semua orang. Ketiga, pahami bahwa sebagian besar hal yang kita lakukan demi orang lain sesungguhnya kita lakukan untuk diri kita sendiri.


Judul : The Things You Can See Only When You Slow Down: Cara untuk Tetap Tenang dan Berkesadaran di Tengah Dunia yang Serbacepat
Penulis : Haemin Sunim
Penerbit : POP
Tahun terbit : 1 April 2020
Cetakan : Keempat
Tebal : 265 hlm
ISBN : 978-602-481-365-9

Dunia bergerak dengan cepat, tetapi tidak berarti kita juga harus begitu. Melalui buku ini, guru meditasi Zen Haemin Sunim mengajak kita untuk menyadari bahwa ketika melambatkan diri, dunia juga akan melambat bersama kita. Pesan-pesan singkat Haemin Sunim—yang ditulis untuk menjawab pertanyaan di media sosialnya—menyasar kepada kekhawatiran manusia yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan modern. Bersama-sama kita akan mencari jalan menuju keseimbangan dan kedamaian batin di tengah berbagai tuntutan hidup sehari-hari lewat hal-hal sederhana, seperti beristirahat dan membangun hubungan baik antarmanusia.

Selasa, 17 Mei 2022

Sebuah jiwa yang baru saja meninggalkan tubuhnya, tiba-tiba diberi kesempatan kedua untuk dilahirkan kembali dalam tubuh seorang remaja 14 tahun bernama Makoto Kobayashi. Kesempatan yang kemudian harus ia ambil untuk menebus dosa besar yang pernah ia lakukan saat hidup di dunia.


Sebelumnya, tubuh Makoto yang asli sedang mengalami koma setelah mencoba bunuh diri dengan menelan obat hingga overdosis. Semasa hidupnya, Makoto dikenal sebagai anak muda putus asa, yang mengalami tekanan akademis dan juga penolakan sosial di lingkungannya. Mungkin tak jauh beda dengan karakter Holden Caulfield dalam The Catcher in the Rye.



Judul : Colorful
Penulis : Mori Eto
Penerbit : Baca
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Tebal : 278 hlm
ISBN : 978-602-6486-68-4

Aku adalah jiwa yang baru saja meninggalkan tubuhku. Di hadapanku tahu-tahu muncul malaikat bernama Purapura. Dia bilang aku berdosa besar sehingga sebenarnya tidak dapat lahir kembali. Namun, karena aku memenangkan undian, aku diberikan kesempatan kedua.

Pada kesempatan kedua ini, aku bersemayam di tubuh seorang bocah 14 tahun bernama Makoto Kobayashi yang mencoba bunuh diri. Aku kecewa dan kesal karena Makoto ternyata anak pengecut yang tak punya teman, keluarganya yang tampak baik-baik saja juga penuh kepalsuan. Namun, aku tidak peduli karena ini bukan kehidupanku yang sebenarnya. Aku berperilaku seenaknya tanpa peduli respons orang-orang di sekitarku.

Lama-kelamaan aku mulai menyimak isi hati Makoto yang sesungguhnya. Aku jadi menyadari kesalahpahaman Makoto terhadap orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya hidup Makoto tidak monoton, melainkan penuh warna. Aku ingin memanggil kembali jiwa Makoto ke tubuh yang sedang kupinjam ini demi mengembalikan Makoto kepada keluarga dan teman-temannya. Untuk itu, aku harus mengingat kesalahan yang telah kuperbuat pada kehidupanku yang lalu. Tinggal 24 jam sebelum batas waktunya. Apakah aku bisa berhasil?

Jumat, 13 Mei 2022

Tiara Andini - Self Titled (Universal Music Indonesia: 2021)

Sempat merilis mini album kolaborasi dengan Arsy Widianto yang diberi tajuk "ArTi untuk Cinta", Tiara Andini (self-titled) merupakan debut album solo dari Tiara Andini, penyanyi yang lahir dari ajang pencarian bakat paling populer di Indonesia, yakni Indonesian Idol musim ke-10. Album studio perdananya ini resmi dirilis pada 17 Desember 2021, berisi 8 lagu yang sebagian besar track-nya sudah pernah dirilis lebih dulu sebagai single terpisah.


Sebagai penyanyi yang bisa dibilang pendatang baru di kancah musik tanah air, kemunculan pertama kalinya saat mengikuti audisi Indonesian Idol, secara gamblang memang memperlihatkan kalau ia terinspirasi dan terinfluen dari penyanyi solo seniornya, yaitu Raisa Andriana. Baik dari karakter suara yang kata orang sama-sama husky, maupun dari segi kualitas teknik vokal.


Namun, setelah mendengarkan semua lagu yang ada dalam album debut Tiara Andini, rasanya kita akan otomatis melupakan sosok Raisa ataupun penyanyi perempuan lain. Ternyata Tiara sudah membangun rumahnya sendiri. Materi albumnya pun nyaris tak ada yang mengekor lagu-lagu dari musisi yang menjadi inspirasinya bermusik.

Senin, 14 Maret 2022

Ternyata tak perlu menjadi aktivis seperti Luis Sepúlveda untuk bisa menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup lewat karangan tulisan. Meskipun fiksi tak bisa mengubah realitas, tapi ia bisa memberi cerminan pada aspek yang sangat penting. Mungkin itulah yang menjadi gagasan Rizqi Turama saat menerbitkan kumpulan cerpen Yang Lebih Bijak daripada Peri.


Judul : Yang Lebih Bijak daripada Peri
Penulis : Rizqi Turama
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Tebal : 156 hlm
ISBN : 978-623-293-630-0


“Ayahmu telah jadi peri pohon tergagah, menjadi pemimpin dari peri-peri pohon yang lain.”
Wajah-wajah itu tersenyum dan membuat Marti kebingungan.
“Tapi…”
“Kami juga baru tahu bahwa hal ini bisa terjadi. Biasanya keluarga terdekat saja yang didatangi mimpi penjelmaan. Mungkin karena alam tahu bahwa kau akan merendah dan akan berbohong, mungkin dengan mengatakan bahwa ia hanyalah kunang-kunang. Maka, ia juga mendatangi kami dan memberi tahu mimpi yang sebenarnya.”

Senyum-senyum semakin mengembang. Marti baru memperhatikan tamu-tamu yang membawa begitu banyak bibit pohon untuk ditanam.

Marti tahu bahwa berkeras menyatakan yang sejujurnya hanya akan memperpanjang kerumitan, baik di hatinya maupun di mata warga. Sekuat tenaga, Marti menyeka air mata yang diterjemahkan warga sebagai air mata haru. Seketika terlintas di benaknya bahwa pohon-pohon pemberian warga akan lebih baik jika ditanam ulang di hutan larangan yang telah menggundul akibat ulah ayahnya. Marti tahu bahwa mungkin inilah waktu yang paling tepat untuk menjadi orang yang lebih bijak daripada peri.

Kamis, 10 Maret 2022

Beri saya waktu enam tahun maka akan saya rangkum problematika perjalanan manusia pada zaman kiwari.” Mungkin itulah yang disampaikan seorang penyanyi solo bernama Tulus pada Tahun 2016, saat ia merilis album musik terakhirnya, “Monokrom”.

Semua pendengar lagu-lagunya pastilah mafhum bahwa pria bernama asli Muhammad Tulus Rusydi itu merupakan seorang pengamat dan tukang curhat yang baik. Suatu hari ia pernah berjam-jam mengamati telapak kakinya, membandingkan sebelah kiri dan kanan, sebelum akhirnya menulis lagu tentang Sepatu. Bahkan ketika mengalami body shaming saat remaja, ia pun menulis lagu Gajah sebagai bentuk penerimaan dan self-healing. Meskipun pada akhirnya tetap termotivasi untuk diet sehat juga.

Kamis, 30 Desember 2021


Pengalaman menonton sepanjang Tahun 2021 ditandai dengan bangkitnya sirkuit festival film dunia dan pembukaan kembali gedung-gedung bioskop di beberapa wilayah. Film-film
blockbuster kembali menghiasi layar lebar kendati layanan platform streaming kini hampir jadi alternatif utama.

Beberapa judul yang akan disebut dalam daftar ini—aku lebih suka menyebutnya sebagai daftar film paling berkesan—tentunya dipilih dengan pertimbangan subjektif. Selain tak semua film yang dirilis pada tahun ini sempat ditonton, semuanya juga bergantung pada preferensi dan selera personal.

Tanpa bermaksud menihilkan Spider-Man: No Way Home sebagai film fan service terbaik tahun ini, apalagi mengabaikan konser-komedi-tunggal rumahan paling menghibur seperti Bo Burnham: Inside, judul-judul film animasi dan dokumenter pun tak akan disebut dalam daftar ini dengan mempertimbangkan berbagai hal. 

So, here are 21 of the best and most memorable movies of 2021!

Selasa, 17 Agustus 2021


Xemut adalah generasi paling mutakhir dari jenis serangga paling populer yang dulu dikenal dengan nama semut. Sebetulnya aku tidak enak mengatakannya, tapi jujur saja nenek moyangku adalah generasi yang paling payah. Ribuan tahun lalu, semut dikenal sebagai serangga sosial yang hidup di dalam sebuah koloni. Sistem hierarkinya pun kompleks, sebab dalam sebuah koloni biasanya berisikan ribuan hingga jutaan semut. Hidup bergerombol seperti itu menurutku sangat tidak mandiri.


Banyak yang iri dengan hidupku karena xemut adalah hewan paling abadi. Kudengar-dengar, dulu semut pekerja dapat hidup hingga satu sampai tiga tahun, sementara ratu semut dapat hidup selama beberapa dekade. Di sisi lain, malah ada semut pejantan yang menghabiskan hidupnya hanya untuk makan dan mengawini ratu semut, lalu mati. Bahkan tipe semut rendahan itu sampai masuk 'Top 10 hewan dengan usia paling singkat'. Memalukan sekali kalau diingat.


Generasiku pertama kali lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Tubuh xemut sedikit lebih besar daripada semut, dengan warna yang kemerahan dan bercorak bintik putih meski agak samar. Ciri yang lebih spesifik bahwa kami hanya memilik satu antena di atas kepala. Selain berfungsi untuk mendeteksi rangsangan kimiawi dan berkomunikasi dengan semut lain, antena ini juga dapat menjangkau pandangan lebih luas bahkan setara seribu unit CCTV. Itulah yang membuatku mengenal dengan baik tempat ini.


Aku tiba di sini enam bulan yang lalu. Saat itu, tanpa terencana aku iseng bertengger pada sepatu seorang perempuan dewasa yang datang berkunjung kemari. Meskipun aku sudah hidup begitu lama, tapi jujur saja aku tak pernah berpikir untuk mengunjungi tempat ini. Penjara jelas merupakan tempat terakhir yang ingin kudatangi.


Setelah memasuki ruang pendaftaran kunjungan, aku sempat kaget saat perempuan yang aku tumpangi itu tiba-tiba melepas sepatunya dan meletakkannya di sebuah rak. Aku terhempas sekitar beberapa senti dan nyaris terhimpit di sudut tembok ruangan. Kulihat perempuan itu mengganti alas kakinya dengan sandal khusus yang telah disediakan oleh petugas layanan kunjungan. Saat itulah aku baru sadar kalau itu bagian dari prosedur kunjungan, gunanya untuk mengantisipasi agar pengunjung tidak bisa menyelundupkan benda-benda terlarang yang dapat ditaruh di bawah alas kaki milik pribadi.


Sebenarnya ada banyak hal yang sudah kudengar tentang penjara. Tindak kriminal, kejahatan, narapidana, kurungan, sel, jeruji, apa pun yang pasti jarang berkonotasi positif. Namun, berbeda dengan semut yang hobinya berkerumun dan bertendensi kuat menyebarkan gosip pada koloninya, tipe xemut sepertiku tentunya lebih suka melakukan observasi sendiri.


Aku banyak belajar dan merekam hal-hal yang baru kudengar. Dari seorang petugas, aku mengetahui bahwa sebutan penjara asal mulanya dari penjera—tempat untuk membuat orang jera. Tentang penjara yang disebut hotel prodeo, yaitu karena fasilitas di penjara kadang disamakan dengan hotel, sedangkan prodeo berarti gratis. Belakangan aku juga baru tahu kalau istilah kepenjaraan di Indonesia sudah diganti menjadi pemasyarakatan sejak 27 April 1964. Sebutan penjara pun sudah diperhalus menjadi Lembaga Pemasyarakatan atau LP/Lapas.


Banyak peristiwa menarik yang sudah terjadi di tempat ini. Dari seorang narapidana senior yang hobi mengobrol dengan rekan sekamarnya, aku jadi tahu kalau sejarah sikat gigi pun tercipta di penjara. Katanya, ide pembuatan sikat gigi pertama kali dibuat oleh seorang pria Inggris bernama William Addis saat ia berada di penjara sekitar tahun 1780. Ketika itu si Addis mencoba membersihkan giginya dengan tulang dari sisa makan malamnya, lalu ia kombinasikan dengan bulu sikat yang dipinjam dari penjaga tahanan.


Cerita itu pun ditimpali oleh penghuni kamar yang lain, lalu obrolan ringan itu mendadak menjadi ruang diskusi sejarah. Napi yang satu ini tadinya masih setia rebahan di atas matras sambil sesekali menggaruk bekas tindik di kupingnya yang sangat mencolok, tapi ia bangkit karena merasa perlu berpartisipasi dalam forum. Namanya Ibenk, tahanan kasus maling.


“Kalian tahu asal mula tato?” tanya Ibenk penuh antusias. Pertanyaan itu mendapat berbagai macam reaksi dan beragam jawaban yang sebagian besar tidak rasional. Rasanya aku ingin merangkak dan melakukan tindakan kekerasan terutama kepada salah satu dari mereka yang baru saja menimpali, “Mungkin dulunya untuk menutupi bekas kurap.” Mereka kompak tertawa, padahal menurutku itu lelucon yang tidak lucu. Maklum saja, selera humor xemut memang tinggi.


Kemudian Ibenk becerita kalau dulunya tato itu pertama kali dibuat untuk menandai setiap tahanan penjara. Sipir akan memberikan tanda di badan setiap tahanan yang baru masuk ke dalam penjara, sebagai bukti mereka pernah terlibat kasus kejahatan. Itulah sebabnya kenapa pernah muncul stigma kalau tato merupakan simbol kriminal, jauh sebelum tren tato sebagai bagian seni dan kultur pop seperti sekarang.


Untuk cerita yang barusan itu, sebetulnya aku belum sempat melakukan validasi atas kebenarannya, jadi boleh saja dianggap sebagai legenda urban. Kurasa keluarga besar xemut pun kurang tertarik dengan cerita semacam itu.


Beberapa hari lagi, generasi xemut akan mengadakan perayaan tahunan, tapi aku masih terjebak di tempat asing ini. Aku jadi mulai khawatir sebab entah kenapa aku mulai nyaman berada di sini. Alih-alih menjadi kawasan penebusan dosa, aku merasa tempat yang dikelilingi oleh tembok beton tinggi ini lebih menyerupai sekolah atau malah pesantren. Kamar-kamar hunian sudah serupa asrama. Beberapa waktu lalu saat diadakan pelatihan di bengkel kerja yang diikuti oleh para tahanan, kudengar Kepala Lapas menyampaikan kalau tujuan dari konsep pemasyarakatan itu bukan untuk menghukum, tetapi membina. Ini juga yang jadi alasan kenapa narapidana sekarang lebih sering disebut sebagai warga binaan pemasyarakatan.


Saat ini, lapas sudah berfungsi sebagai lembaga katarsis. Sebuah mikrokosmos sosial yang masih memelihara hak-hak manusia sebagai warga binaan. Mereka yang berada di dalam lapas hanya dianggap sebagai kumpulan orang yang tersesat, yang nantinya akan dibimbing untuk kembali ke jalan yang sesuai tatanan hukum.


Plak! Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sedang dikeplak. Antena yang tadinya mencuat di kepalaku sontak menciut dan menyusut. Kulitku yang tadinya berwarna kemerahan secara perlahan berubah menjadi kecokelatan seperti kulit manusia. Kemudian mataku mengedip dengan pelan.


“Sudah sadar belum?” Suara itu rasanya cukup familier. Itu suara Ibenk, teman sekamarku sejak aku ditempatkan di sini enam bulan yang lalu.


Bang Addis, panggilan akrab kami kepada kepala kamar yang lebih senior itu, mengeplak kepalaku sekali lagi. Memastikan aku sudah sadar dari lamunan panjang. “Aku perhatikan kau makin hari jadi makin sering bengong, ya?” sosornya.


“Ya maklum, Bang, kan sebentar lagi bakal dapat remisi umum di hari kemerdekaan.”


 

Palembang, 12 Agustus 2020

 


Senin, 28 Juni 2021

Diterjemahkan dari novel 世界から猫が消えたなら―Sekai kara neko ga kieta nara karya Genki Kawamura, novel yang diberi judul Jika Kucing Lenyap dari Dunia dalam versi Indonesia ini ternyata bukanlah novel tentang masa apokaliptik yang menyerang kaum kucing.


Judul : Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Penulis : Genki Kawamura
Penerbit : Penerbit Baca
Tahun terbit : 2021
Cetakan : Ketiga
Tebal : 262 hlm
ISBN : 978-602-6486-43-1

Apakah yang akan kamu lakukan jika umurmu tinggal hitungan hari? Apa perasaanmu jika kamu akan segera mati?

Seorang lelaki muda penyendiri yang bekerja sebagai tukang pos divonis mengidap kanker stadium akhir. Umurnya tinggal sebentar lagi. Dalam kekalutan, datang tawaran menggiurkan untuk melakukan perjanjian dengan Iblis agar hidupnya terselamatkan. Syaratnya: setiap hari dia harus bersedia menghilangkan sebuah benda yang dia sayangi dari dunia ini. Jika kamu yang berada pada posisi dia, maukah kamu menerima tawaran sang Iblis?

Jika ya, benda apa yang rela kamu hilangkan? Maukah kamu menghilangkan mantan pacarmu? Maukah kamu melenyapkan binatang kesayanganmu dari dunia yang aneh ini

Novel unik ini tak hanya asyik dibaca dan sangat menghibur, tapi juga akan memberi kita pencerahan tak terduga, sekaligus membuat kita tertawa, menangis, dan merenung.