Selasa, 17 Agustus 2021


Xemut adalah generasi paling mutakhir dari jenis serangga paling populer yang dulu dikenal dengan nama semut. Sebetulnya aku tidak enak mengatakannya, tapi jujur saja nenek moyangku adalah generasi yang paling payah. Ribuan tahun lalu, semut dikenal sebagai serangga sosial yang hidup di dalam sebuah koloni. Sistem hierarkinya pun kompleks, sebab dalam sebuah koloni biasanya berisikan ribuan hingga jutaan semut. Hidup bergerombol seperti itu menurutku sangat tidak mandiri.


Banyak yang iri dengan hidupku karena xemut adalah hewan paling abadi. Kudengar-dengar, dulu semut pekerja dapat hidup hingga satu sampai tiga tahun, sementara ratu semut dapat hidup selama beberapa dekade. Di sisi lain, malah ada semut pejantan yang menghabiskan hidupnya hanya untuk makan dan mengawini ratu semut, lalu mati. Bahkan tipe semut rendahan itu sampai masuk 'Top 10 hewan dengan usia paling singkat'. Memalukan sekali kalau diingat.


Generasiku pertama kali lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Tubuh xemut sedikit lebih besar daripada semut, dengan warna yang kemerahan dan bercorak bintik putih meski agak samar. Ciri yang lebih spesifik bahwa kami hanya memilik satu antena di atas kepala. Selain berfungsi untuk mendeteksi rangsangan kimiawi dan berkomunikasi dengan semut lain, antena ini juga dapat menjangkau pandangan lebih luas bahkan setara seribu unit CCTV. Itulah yang membuatku mengenal dengan baik tempat ini.


Aku tiba di sini enam bulan yang lalu. Saat itu, tanpa terencana aku iseng bertengger pada sepatu seorang perempuan dewasa yang datang berkunjung kemari. Meskipun aku sudah hidup begitu lama, tapi jujur saja aku tak pernah berpikir untuk mengunjungi tempat ini. Penjara jelas merupakan tempat terakhir yang ingin kudatangi.


Setelah memasuki ruang pendaftaran kunjungan, aku sempat kaget saat perempuan yang aku tumpangi itu tiba-tiba melepas sepatunya dan meletakkannya di sebuah rak. Aku terhempas sekitar beberapa senti dan nyaris terhimpit di sudut tembok ruangan. Kulihat perempuan itu mengganti alas kakinya dengan sandal khusus yang telah disediakan oleh petugas layanan kunjungan. Saat itulah aku baru sadar kalau itu bagian dari prosedur kunjungan, gunanya untuk mengantisipasi agar pengunjung tidak bisa menyelundupkan benda-benda terlarang yang dapat ditaruh di bawah alas kaki milik pribadi.


Sebenarnya ada banyak hal yang sudah kudengar tentang penjara. Tindak kriminal, kejahatan, narapidana, kurungan, sel, jeruji, apa pun yang pasti jarang berkonotasi positif. Namun, berbeda dengan semut yang hobinya berkerumun dan bertendensi kuat menyebarkan gosip pada koloninya, tipe xemut sepertiku tentunya lebih suka melakukan observasi sendiri.


Aku banyak belajar dan merekam hal-hal yang baru kudengar. Dari seorang petugas, aku mengetahui bahwa sebutan penjara asal mulanya dari penjera—tempat untuk membuat orang jera. Tentang penjara yang disebut hotel prodeo, yaitu karena fasilitas di penjara kadang disamakan dengan hotel, sedangkan prodeo berarti gratis. Belakangan aku juga baru tahu kalau istilah kepenjaraan di Indonesia sudah diganti menjadi pemasyarakatan sejak 27 April 1964. Sebutan penjara pun sudah diperhalus menjadi Lembaga Pemasyarakatan atau LP/Lapas.


Banyak peristiwa menarik yang sudah terjadi di tempat ini. Dari seorang narapidana senior yang hobi mengobrol dengan rekan sekamarnya, aku jadi tahu kalau sejarah sikat gigi pun tercipta di penjara. Katanya, ide pembuatan sikat gigi pertama kali dibuat oleh seorang pria Inggris bernama William Addis saat ia berada di penjara sekitar tahun 1780. Ketika itu si Addis mencoba membersihkan giginya dengan tulang dari sisa makan malamnya, lalu ia kombinasikan dengan bulu sikat yang dipinjam dari penjaga tahanan.


Cerita itu pun ditimpali oleh penghuni kamar yang lain, lalu obrolan ringan itu mendadak menjadi ruang diskusi sejarah. Napi yang satu ini tadinya masih setia rebahan di atas matras sambil sesekali menggaruk bekas tindik di kupingnya yang sangat mencolok, tapi ia bangkit karena merasa perlu berpartisipasi dalam forum. Namanya Ibenk, tahanan kasus maling.


“Kalian tahu asal mula tato?” tanya Ibenk penuh antusias. Pertanyaan itu mendapat berbagai macam reaksi dan beragam jawaban yang sebagian besar tidak rasional. Rasanya aku ingin merangkak dan melakukan tindakan kekerasan terutama kepada salah satu dari mereka yang baru saja menimpali, “Mungkin dulunya untuk menutupi bekas kurap.” Mereka kompak tertawa, padahal menurutku itu lelucon yang tidak lucu. Maklum saja, selera humor xemut memang tinggi.


Kemudian Ibenk becerita kalau dulunya tato itu pertama kali dibuat untuk menandai setiap tahanan penjara. Sipir akan memberikan tanda di badan setiap tahanan yang baru masuk ke dalam penjara, sebagai bukti mereka pernah terlibat kasus kejahatan. Itulah sebabnya kenapa pernah muncul stigma kalau tato merupakan simbol kriminal, jauh sebelum tren tato sebagai bagian seni dan kultur pop seperti sekarang.


Untuk cerita yang barusan itu, sebetulnya aku belum sempat melakukan validasi atas kebenarannya, jadi boleh saja dianggap sebagai legenda urban. Kurasa keluarga besar xemut pun kurang tertarik dengan cerita semacam itu.


Beberapa hari lagi, generasi xemut akan mengadakan perayaan tahunan, tapi aku masih terjebak di tempat asing ini. Aku jadi mulai khawatir sebab entah kenapa aku mulai nyaman berada di sini. Alih-alih menjadi kawasan penebusan dosa, aku merasa tempat yang dikelilingi oleh tembok beton tinggi ini lebih menyerupai sekolah atau malah pesantren. Kamar-kamar hunian sudah serupa asrama. Beberapa waktu lalu saat diadakan pelatihan di bengkel kerja yang diikuti oleh para tahanan, kudengar Kepala Lapas menyampaikan kalau tujuan dari konsep pemasyarakatan itu bukan untuk menghukum, tetapi membina. Ini juga yang jadi alasan kenapa narapidana sekarang lebih sering disebut sebagai warga binaan pemasyarakatan.


Saat ini, lapas sudah berfungsi sebagai lembaga katarsis. Sebuah mikrokosmos sosial yang masih memelihara hak-hak manusia sebagai warga binaan. Mereka yang berada di dalam lapas hanya dianggap sebagai kumpulan orang yang tersesat, yang nantinya akan dibimbing untuk kembali ke jalan yang sesuai tatanan hukum.


Plak! Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sedang dikeplak. Antena yang tadinya mencuat di kepalaku sontak menciut dan menyusut. Kulitku yang tadinya berwarna kemerahan secara perlahan berubah menjadi kecokelatan seperti kulit manusia. Kemudian mataku mengedip dengan pelan.


“Sudah sadar belum?” Suara itu rasanya cukup familier. Itu suara Ibenk, teman sekamarku sejak aku ditempatkan di sini enam bulan yang lalu.


Bang Addis, panggilan akrab kami kepada kepala kamar yang lebih senior itu, mengeplak kepalaku sekali lagi. Memastikan aku sudah sadar dari lamunan panjang. “Aku perhatikan kau makin hari jadi makin sering bengong, ya?” sosornya.


“Ya maklum, Bang, kan sebentar lagi bakal dapat remisi umum di hari kemerdekaan.”


 

Palembang, 12 Agustus 2020

 


Senin, 28 Juni 2021

Diterjemahkan dari novel 世界から猫が消えたなら―Sekai kara neko ga kieta nara karya Genki Kawamura, novel yang diberi judul Jika Kucing Lenyap dari Dunia dalam versi Indonesia ini ternyata bukanlah novel tentang masa apokaliptik yang menyerang kaum kucing.


Judul : Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Penulis : Genki Kawamura
Penerbit : Penerbit Baca
Tahun terbit : 2021
Cetakan : Ketiga
Tebal : 262 hlm
ISBN : 978-602-6486-43-1

Apakah yang akan kamu lakukan jika umurmu tinggal hitungan hari? Apa perasaanmu jika kamu akan segera mati?

Seorang lelaki muda penyendiri yang bekerja sebagai tukang pos divonis mengidap kanker stadium akhir. Umurnya tinggal sebentar lagi. Dalam kekalutan, datang tawaran menggiurkan untuk melakukan perjanjian dengan Iblis agar hidupnya terselamatkan. Syaratnya: setiap hari dia harus bersedia menghilangkan sebuah benda yang dia sayangi dari dunia ini. Jika kamu yang berada pada posisi dia, maukah kamu menerima tawaran sang Iblis?

Jika ya, benda apa yang rela kamu hilangkan? Maukah kamu menghilangkan mantan pacarmu? Maukah kamu melenyapkan binatang kesayanganmu dari dunia yang aneh ini

Novel unik ini tak hanya asyik dibaca dan sangat menghibur, tapi juga akan memberi kita pencerahan tak terduga, sekaligus membuat kita tertawa, menangis, dan merenung.

Kamis, 18 Februari 2021

Dalam menjalankan roda pemerintahan, saat ini manajemen talenta bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran yang krusial. Masih menjadi bagian dari manajemen SDM, manajemen talenta lebih spesifik bertujuan untuk menjaring SDM potensial yang dianggap memiliki talenta dalam mencapai sasaran strategis dalam suatu organisasi.

Sejak dicanangkan secara resmi melalui terbitnya Permenpan-RB Nomor 3 Tahun 2020, manajemen talenta ASN telah digadang-gadang sebagai proyek prioritas nasional, menjadi basis pengembangan karier talenta baik di level nasional maupun instansi.

Hadirnya manajemen talenta pada dasarnya dimaksudkan untuk mengelola dan mengembangkan karier sekumpulan manusia yang memiliki potensi tinggi untuk menduduki jabatan tertentu, sekaligus agar tersedia pasokan talenta untuk menyelaraskan prinsip "The right man on the right place". Selain itu, proyek ini juga lahir sebagai konter atas maraknya praktik negatif dan kontraproduktif dalam manajemen kepegawaian khususnya dalam pola karier ASN, yang dalam pelaksanaannya sering kali bertentangan dengan konsep merit system.

Meskipun diawali dengan proses rekrutmen yang bersih, tak jadi jaminan para tunas muda ASN akan mengemban tugas dan jabatan sesuai dengan bidang keahliannya. Tak jarang pula, mereka yang berprestasi tinggi dalam birokrasi justru memilih untuk melanjutkan karier di luar instansi pemerintah. Salah satu penyebabnya karena absennya keterlibatan instansi dalam memfasilitasi potensi SDM yang dimiliki.

Apakah manajemen talenta ideal untuk menjawab persoalan itu?

Baru-baru ini, 30 orang pegawai yang tergabung dalam komunitas ASN Muda Kemenkumham alias Kemenkumham Muda, secara kolaboratif menuangkan gagasannya dalam sebuah buku bertajuk "Manajemen Talenta ASN Kementerian Hukum dan HAM" yang dapat diunduh gratis melalui aplikasi Google Play Books. Buku ini berisi esai dan opini para penulis tentang implementasi manajemen talenta ASN khususnya dalam lingkup kerja di Kemenkumham.


Dalam salah satu esai yang ditulis oleh Asep Humaedi, penulis mengibaratkan manajemen talenta sebagai kawah candradimuka bagi ASN di Kemenkumham. Perumpamaan itu tentunya berisi hasrat agar para petinggi di instansi tak lagi pelit apresiasi, sehingga tak ada lagi SDM yang merasa potensinya disia-siakan karena kegagapan dalam proses pemetaan jabatan atau akibat benturan kepentingan.

Dengan demikian, memang sudah semestinya diterapkan kembali sistem promosi yang transparan dan sistem pengembangan karier yang saling menguntungkan antara instansi dan individu dalam hal ini pegawai. Misalnya, ketika instansi menginginkan pegawainya menginvestasikan karier untuk instansi maka sudah selayaknya disediakan wadah khusus pengembangan karier bagi pegawai tersebut. Hal ini mungkin mirip istilah "It takes two to tango" dalam konsep berpasangan.

Menarik pula ketika salah satu Teman Muda, Bustomi, dalam esainya mengusulkan agar dilakukan pendekatan inklusif untuk mengetahui talenta setiap pegawai, kemudian mengembangkan talenta tersebut, lalu mengubahnya menjadi kinerja yang nyata bagi organisasi. Sejalan dengan itu, perlu dipertimbangkan juga metode penjaringan talenta melalui Virtual Assessment Center yang selanjutnya dibahas Dian Din Astuti Mulia dalam tulisannya.

Namun, bagaimana pun juga, manajemen talenta mustahil direalisasikan tanpa adanya bibit-bibit talenta dalam lingkup instansi itu sendiri. Menurut Guntur Widyanto dalam esainya di buku ini, krisis talenta muda bisa jadi disebabkan oleh rendahnya kesadaran literasi sebagian besar pegawai karena terlalu fokus dengan rutinitas harian yang dilakukan. Bukan hanya literasi dalam hal membaca atau menulis, tetapi dalam definisi yang lebih luas. Anggapan itu memang terdengar agak ironis, tapi rasanya tak ada alasan untuk tak mengamini.

Pada akhirnya, konklusinya sudah jelas bahwa aset instansi yang paling utama adalah SDM yang bekerja di dalamnya. Manajemen talenta seharusnya bukan lagi soal mengidentifikasi pemain inti dalam suatu organisasi, tetapi bagaimana mengembangkan talenta yang dimiliki agar dapat berkontribusi penuh di setiap level organisasi.

Palembang, 18 Februari 2021
~ ditulis saat work from home

Sabtu, 13 Februari 2021

Sudah tahu survei terbaru mengenai pandemi Covid-19? Survei tersebut memprediksi bahwa Indonesia membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk menyelesaikan vaksin dan pandemi global diperkirakan tidak akan selesai sebelum menginjak tahun ke tujuh! Mengerikan, bukan? Keadaan yang seperti itu memaksa orang-orang untuk berjuang sendiri. Setahun pandemi saja, tidak terhitung jumlah pekerja yang dirumahkan, apalagi hingga bertahun-tahun lamanya.

Cara terbaik untuk survive dengan keadaan yang seperti ini adalah dengan mengasah skill pribadi. Tak bisa dimungkiri, para pemberi kerja tidak hanya mengandalkan pekerja yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Terdapat banyak faktor X yang turut mempengaruhi. Dengan memiliki keterampilan yang mumpuni, peluang mendapat pekerjaan jadi jauh lebih terbuka.

Melihat hal itu, pemerintah mencanangkan program Kartu Prakerja sebagai alternatif penambahan kemampuan profesional bagi para pencari kerja. Dengan program ini, para penerima manfaat diberikan dana bantuan pelatihan yang dapat digunakan untuk membeli beragam kelas di banyak platform digital. Meski banyak platform online yang menawarkan pelatihan, sejauh ini kelas prakerja terbaik adalah Skill Academy.

Skill Academy, Platform Pengasah Kemampuan

Di era teknologi informasi seperti saat ini, kemudahan mengakses informasi jadi hal yang lumrah. Apalagi di era pandemi, rasanya semua kegiatan sudah berlangsung daring. Tak heran, layanan berbasis pendidikan juga ikut menjamur termasuk Skill Academy.

Skill Academy merupakan inovasi dari Ruangguru yang fokus pada pelatihan kemampuan individu. Beragam pilihan kelas mulai dari skill menjadi youtuber hingga mengelola keuangan untuk UMKM tersedia di sini. Skill Academy menjembatani para pencari kerja untuk mengakses ilmu langsung dari instruktur terpercaya.

Kalau dulu Skill Akademy bertindak sebagai mitra resmi pemerintah sebagai platform Kartu Prakerja, tapi sejak pembukaan gelombang keempat, Skill Academy hanya bertindak sebagai lembaga pelatihan saja. Namun, ini bukan berarti para penerima program Kartu Prakerja tak bisa lagi menikmati kelas-kelas keren di Skill Academy, sebab prakerja dapat mengaksesnya langsung melalui kanal resmi Skill Academy.

Dari semua platform online yang menawarkan kelas untuk Prakerja, Skill Academy memiliki banyak keunggulan. Nah, inilah 5 alasan kenapa Skill Academy adalah pilihan terbaik untuk prakerja!


1. Tampilan Menarik dan Mudah Digunakan

Ada dua cara untuk mengakses Skill Academy yaitu melalui situs web resminya dan aplikasi. Yang paling penting, keduanya sangat mudah digunakan. Pertama kalian cukup mendaftarkan diri atau masuk melalui akun facebook/gmail kalian. Setelah itu kalian dapat langsung memilih kelas yang kalian butuhkan. Cara pembayarannya pun mudah, mulai dari sistem transfer hingga e-wallet. Untuk pekerja pun dapat langsung mengakses platform mitra Kartu Prakerja. Sehabis itu, kelas sudah bisa kalian lihat dan pelajari. Masih bingung? Tenang, kalian juga bisa cek detail kelas, topik, pengajar, hingga materi apa aja yang bakal didapat!

2. Kelas Keren dan Beragam

Salah satu nilai plus dari Skill Academy adalah range kelas yang beragam. Kelas yang disajikan tak melulu tentang sesuatu yang teknis dan sulit. Banyak pula kelas nonformal yang bisa diambil. Kelas-kelas ini dibagi menjadi beberapa kategori seperti pengembangan diri, bisnis & keuangan, pemasaran, mentoring, teknologi & software, hingga persiapan tes. Mulai dari menulis UX di aplikasi sampai skill jadi youtuber semua lengkap di sini! Tinggal pilih sesuai minat dan kemampuan. Satu lagi yang fantastis yaitu fakta bahwa kelas-kelas ini dapat diakses selamanya! Bagi yang sering lupa, bisa ingat-ingat kembali dengan buka materi di Skill Academy, nih!


3. Instruktur Profesional dan Berpengalaman

Kelas keren tanpa guru yang keren juga tentu rasanya mubazir. Nah, di Skill Academy, seluruh pengajarnya dijamin profesional dan pengalaman. Mereka adalah ahli di bidangnya. Kalian dapat melihat detail instrukturnya di deskripsi kelas yang kalian pilih. Contohnya nih ada Gita Savitri, content creator yang mengajarkan tentang platform youtube, Ivan Gunawan yang bicara tentang fashion, bahkan Fedi Nuril yang siap bantu kalian mengasah bakat sebagai aktor! Bahkan vice president dari korporasi besar seperti Arman Wiratmoko juga memberi materi lengkap di sini. Bukan kaleng-kaleng!


4. Harga Terjangkau, Pas di Kantong

Kalau bicara tentang harga, Skill Academy juga patut diacungi jempol. Dengan beragam instruktur yang profesional di bidangnya seperti yang tadi disebut di atas, harga yang dipatok ternyata masih terjangkau. Belum lagi banyak promo menarik yang bisa dipakai, jadi makin hemat! Bagi penerima program Kartu Prakerja, dana untuk belajar di Skill Academy bisa dipakai untuk ambil hingga 3 kelas, loh! Anti mahal-mahal club!

5. Terukur dengan Sertifikat

Sudah rajin ikut kelas, tapi masih bingung mengaplikasikannya? Eits, tenang saja. Sebagai langkah agar materi di kelas dapat ‘masuk’ ke dalam otak, akan ada tes atau ujian! Jumlah ujian tergantung pada instrukturnya, ya. Namun, nantinya akan ada satu ujian akhir yang menentukan kalian lulus atau tidak. Ujian inilah yang bisa kalian gunakan untuk mengukur kemampuan diri. Apabila berhasil…, kalian bakal dapat sertifikat! Bagi penerima bantuan Kartu Prakerja, sertifikat ini sangat dibutuhkan sebagai bukti telah mengikuti kelas. Dan bagi prakerja biasa, kalian dapat melampirkan sertifikat ini sebagai bukti mengikuti kelas nonformal. Terbaik, kan?

Kelima poin di atas adalah bukti kalau tidak berlebihan mengatakan Skill Academy sebagai platform pelatihan online terbaik untuk saat ini. Apalagi untuk para prakerja yang sedang survive di tengah pandemi agar dapat melatih kemampuan yang mereka punya sehingga ke depannya dapat diaplikasikan. Skill Academy memiliki semua yang dibutuhkan oleh para prakerja.

Sebab jika sudah ada yang terbaik, untuk apa cari yang lain?


Rabu, 30 Desember 2020


Dunia sinema pada tahun 2020 adalah sebuah fenomena. Datangnya bencana pandemi membuat kita mendapati pengalaman menonton yang berbeda dari biasanya. Penutupan serentak seluruh tempat hiburan termasuk bioskop nyaris selama tujuh bulan, mengharuskan kita mencari alternatif lain dalam menikmati konten film sebagai tontonan.

Beberapa judul yang akan disebut dalam daftar ini—aku lebih suka menyebutnya sebagai daftar film paling berkesan—adalah film-film yang sempat tayang di bioskop, lalu sebagian lagi yang dirilis lewat paltform online streaming, dan sisanya diisi oleh film-film yang tayang terbatas di berbagai event festival ataupun special screening. Namun apapun media menontonnya, yang jelas good movie speaks for itself!

Pertimbangan memilih 20 judul film dalam daftar ini tentunya sangat subjektif, semuanya bergantung pada selera personal. Sayangnya beberapa judul seperti Better Days, The Unknown Saint, Corpus Christi, dan Babyteeth terpaksa disisihkan karena bingung debut rilisnya secara internasional sebaiknya masuk tahun ini atau tahun lalu (terus terang saja, ini kegelisahan kolektif para sinefili setiap tahun ha ha). Terlepas dari itu, izinkan aku memberi honorable mention untuk Borat Subsequent Moviefilm, Sweat, Tigertail, Shiva Baby, His House, Days, dan Limbo yang cukup berkesan meskipun tak ditulis dalam daftar.

So, here are 20 of the best and most memorable movies of 2020!

Senin, 16 November 2020

Dengan mudahnya akses terhadap film-film karya sineas lokal seperti sekarang ini, memang sudah selayaknya ada percakapan lebih lanjut tentang film di luar produksi gagasan. Dewasa ini film bukan hanya ditonton, tapi juga harus didiskusikan, sehingga ada pertukaran perspektif dan informasi.

Diskursus tentang film mungkin bisa mudah kita temukan dalam berbagai tulisan di media massa maupun elektronik, baik ditulis oleh penonton, pengamat, atau bahkan pegiat film itu sendiri. Namun, jika kita ingin mengetahui sejarah perfilman Indonesia terutama pascareformasi, mungkin tidak ada yang lebih pantas menuliskannya selain sutradara senior, penulis, kritikus, sekaligus dosen film sekaliber Garin Nugroho.

Garin sebagai salah satu pelopor kebangkitan film Indonesia di tengah krisis dekade 90-an, melalui buku memoarnya yang berjudul Era Emas Film Indonesia 1998-2019, mencoba menyusuri lorong waktu ingatan dari tiga dekade kiprahnya di dunia perfilman.⁣


Judul : Era Emas Film Indonesia 1998-2019
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Warning Books
Tahun terbit : September 2020
Cetakan : Pertama 
Tebal : 228 hlm
ISBN : 9786239330439

"Buku ini berbentuk mosaik kenangan-kenangan ensiklopedik Garin Nugroho tentang perfilman Indonesia. Menarik, karena Garin justru berangkat dari masa kini, perfilman Indonesia pasca-Reformasi 1998. Sang sutradara kugiran membingkai perfilman mutakhir kita dengan pengalamannya sejak kecil menikmati film dan tiga dekade lebih berkarya, menempatnya dalam sebuah peta perfilman global." - Hikmat Darmawan (kritikus & pengamat budaya popular)

Sabtu, 31 Oktober 2020


Film horor biasanya fokus terhadap dua hal: why people hurt one another, and what happens when we die. Mulai dari kisah tentang pembunuhan berantai, mayat hidup, pengabdi setan, kanibalisme, hingga monster-monster yang bisa berubah menjadi raksasa.

Yang harus disadari, sebetulnya film horor tidak menciptakan kekerasan dan kematian—sebab keduanya sudah eksis bahkan sebelum bioskop ada—mereka hanya mencerminkannya dalam gerak gambar.

Konsepsi horor terkadang secara emosional dan psikologis melibatkan ketakutan terbesar kita, terutama ketakutan kita akan kematian. Selain menjadi katarsis, film horor juga secara tidak langsung telah mengajak kita mempertanyakan tentang kemanusiaan kita sendiri.

Saat menonton film horor, kita sering kali latah berteriak di depan layar. "Jangan buka pintunya!" "Jangan pergi ke gudang bawah tanah!" "Jangan masuk ke hutan, goblok!" Tetapi dalam hati kecil, kita butuh sang tokoh untuk pergi ke sana, sebab kita pun ingin tahu ada apa di sana. Sebagian orang mungkin membenci perasaan takut, gelisah, bahkan tidak nyaman yang disebabkan menonton film horor. Padahal sebetulnya itulah esensinya, kita dilatih untuk melawan rasa takut itu. Teorinya begitu, kan?

Menariknya, saat ini perkembangan genre horor sudah semakin luas, bahkan cenderung mendorong batasan dan mengeksplorasi tema-tema kuno dengan cara yang lebih imajinatif. Coba saja googling, horor dewasa ini sudah banyak melahirkan sub-genre mulai dari horor aksi, horor komedi, horor psikologi, horor fiksi ilmiah, horor supernatural, atau yang lebih spesifik lagi seperti slasher, splatter, hingga zombie.

Sebagai sub-genre, film zombie pun bisa menghasilkan sub-genre lain seperti zombie comedy yang pada umumnya tampil sebagai black comedy. Sebut saja Shaun of the Dead (2004), Zombieland (2009), hingga Little Monsters (2019) yang semuanya sukses menjadikan paguyuban mayat hidup kehilangan harga diri di hadapan komedi. Belum lagi kita bicara tentang film berjudul Kamera o tomeru na! alias One Cut of the Dead (2017), salah satu mahakarya film zombie yang absurditasnya mungkin belum pernah kita temui dalam semua film komedi, film  zombie, film komedi-zombie, bahkan film komedi Jepang tentang zombie.

Pada akhirnya, membicarakan film horor tidak melulu tentang teror lagi. Horor dan ketakutan tidak harus selalu berada di satu garis lurus. Omong-omong soal takut, aku jadi ingat salah satu kutipan yang sampai sekarang cukup ampuh untuk dijadikan pedoman dalam menonton film horor bagi para pemula. 

"Hanya orang takut yang bisa berani. Karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya."


Menonton film horor, hmm siapa takut? 

Rabu, 19 Agustus 2020

Keiko Furukara adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi pegawai angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.⁣

Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tidak normal. Idealnya, pada usia matang tersebut ia sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket.⁣



Judul : Convenience Store Woman (Gadis Minimarket)
Penulis :  Sayaka Murata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2020
Cetakan : Pertama
Tebal : 164 hlm 
ISBN : 978-602-06-4439-4

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini...