Dunia Dipenuhi Orang-Orang Kalah

"Hidup hanya menunda kekalahan," kata Chairil Anwar dalam salah satu larik puisinya yang berjudul Derai-derai Cemara, karya sastra yang ia tulis pada 1949—tahun yang sama saat Bapak Puisi itu wafat karena terpaksa kalah atas penyakit yang semakin menggerogoti tubuhnya.

Terlepas dari makna puisinya yang mengandung pesan tentang maut, lewat larik tersebut setidaknya Chairil tengah menegaskan bahwa sepandai apa pun atau sekuat apa pun manusia, ia harus selalu bersiap untuk kalah.

Sedari kecil, mungkin kita sudah terbiasa melatih diri sendiri untuk menang—bahkan jiwa kompetitif manusia sudah terlatih saat ia masih berbentuk spermatozoa yang bersaing untuk berebut membuahi sel telur. Namun, terkadang kita luput bahwasanya kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah.

Di sekolah, kita berkompetisi untuk jadi yang paling cerdas dan pintar di antara murid lain. Di tempat kerja, kita berkompetisi untuk menghasilkan kinerja terbaik. Kompetisi bahkan terlihat lebih nyata di bidang-bidang tertentu seperti olahraga dan politik. Pada setiap musim, akan selalu dipilih satu klub bola terbaik yang menduduki puncak klasemen. Demikian juga, dalam suatu negara mustahil ada lebih dari satu presiden yang memimpin. Akhir dari kompetisi pun banyak melahirkan orang-orang yang kalah.


Penting untuk menyadari bahwa kita tidaklah hidup dalam realitas semu, tentu ada banyak opsi kekalahan yang menanti kita di garis depan. Walt Disney pernah dipecat dari sebuah surat kabar karena dinilai kurang kreatif. Penulis sekaliber J.K. Rowling pernah mengalami banyak penolakan dari penerbit sebelum akhirnya seri pertama Harry Potter terbit. Steve Jobs bahkan pernah dipecat dari perusahaan yang ia dirikan sendiri.

Terlepas dari nasib seperti apa yang menghampiri mereka sekarang, faktanya orang-orang besar itu juga pernah terjerembap dalam kubangan bernama kekalahan. Apa yang membedakan mereka dengan orang kebanyakan mungkin terletak pada bagaimana cara mereka merespons kekalahan tersebut.

Menurut Stephen R. Covey, penulis buku The 7 Habits of Highly Effective People, reaksi kita terhadap suatu hal atau kejadian dalam hidup adalah sebuah pilihan. Secara spesifik, Covey mengatakan bahwa hidup adalah 10% apa yang terjadi pada kita dan 90% bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Pandangan itu dikenal dengan prinsip 90/10.

Kenyataannya, kita memang tak bisa mengendalikan banyak hal, sementara reaksi kita terhadap sesuatu sering kali bersifat naluriah. Ketika mengalami kekalahan, kita bisa spontan marah dan kecewa. Sedangkan reaksi semacam itu mungkin tidak akan menyelesaikan apa-apa—malahan sering kali membawa pada muara penyesalan. Lantas kita tak pernah tahu, bisa jadi suatu kegagalan yang kita sesalkan sebetulnya adalah yang paling kita butuhkan.

"Beberapa perang bukan untuk dimenangkan. Beberapa kemenangan bukan untuk dirayakan," begitu kata penyanyi hip hop Morgue Vanguard di sela-sela lantunan lagu Bersemi Sekebun yang ia nyanyikan bersama Efek Rumah Kaca. Kemudian ia menambahkan, "Dan, dalam rentetan kekalahan, bertahanlah sedikit lebih lama."

Pada akhirnya, belajar menerima kekalahan bukan hanya melatih mental kita untuk bisa berjalan lebih jauh lagi, melainkan juga melatih kita untuk memelihara empati agar tak melulu terperangkap dalam arogansi kemenangan.

Terkadang memang penting untuk menyadari bahwasanya dunia memang dipenuhi oleh orang-orang yang kalah, meskipun itu berarti kitalah salah satunya.

Posting Komentar

1 Komentar

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!