Kamis, 18 Februari 2021

Dalam menjalankan roda pemerintahan, saat ini manajemen talenta bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran yang krusial. Masih menjadi bagian dari manajemen SDM, manajemen talenta lebih spesifik bertujuan untuk menjaring SDM potensial yang dianggap memiliki talenta dalam mencapai sasaran strategis dalam suatu organisasi.

Sejak dicanangkan secara resmi melalui terbitnya Permenpan-RB Nomor 3 Tahun 2020, manajemen talenta ASN telah digadang-gadang sebagai proyek prioritas nasional, menjadi basis pengembangan karier talenta baik di level nasional maupun instansi.

Hadirnya manajemen talenta pada dasarnya dimaksudkan untuk mengelola dan mengembangkan karier sekumpulan manusia yang memiliki potensi tinggi untuk menduduki jabatan tertentu, sekaligus agar tersedia pasokan talenta untuk menyelaraskan prinsip "The right man on the right place". Selain itu, proyek ini juga lahir sebagai konter atas maraknya praktik negatif dan kontraproduktif dalam manajemen kepegawaian khususnya dalam pola karier ASN, yang dalam pelaksanaannya sering kali bertentangan dengan konsep merit system.

Meskipun diawali dengan proses rekrutmen yang bersih, tak jadi jaminan para tunas muda ASN akan mengemban tugas dan jabatan sesuai dengan bidang keahliannya. Tak jarang pula, mereka yang berprestasi tinggi dalam birokrasi justru memilih untuk melanjutkan karier di luar instansi pemerintah. Salah satu penyebabnya karena absennya keterlibatan instansi dalam memfasilitasi potensi SDM yang dimiliki.

Apakah manajemen talenta ideal untuk menjawab persoalan itu?

Baru-baru ini, 30 orang pegawai yang tergabung dalam komunitas ASN Muda Kemenkumham alias Kemenkumham Muda, secara kolaboratif menuangkan gagasannya dalam sebuah buku bertajuk "Manajemen Talenta ASN Kementerian Hukum dan HAM" yang dapat diunduh gratis melalui aplikasi Google Play Books. Buku ini berisi esai dan opini para penulis tentang implementasi manajemen talenta ASN khususnya dalam lingkup kerja di Kemenkumham.


Dalam salah satu esai yang ditulis oleh Asep Humaedi, penulis mengibaratkan manajemen talenta sebagai kawah candradimuka bagi ASN di Kemenkumham. Perumpamaan itu tentunya berisi hasrat agar para petinggi di instansi tak lagi pelit apresiasi, sehingga tak ada lagi SDM yang merasa potensinya disia-siakan karena kegagapan dalam proses pemetaan jabatan atau akibat benturan kepentingan.

Dengan demikian, memang sudah semestinya diterapkan kembali sistem promosi yang transparan dan sistem pengembangan karier yang saling menguntungkan antara instansi dan individu dalam hal ini pegawai. Misalnya, ketika instansi menginginkan pegawainya menginvestasikan karier untuk instansi maka sudah selayaknya disediakan wadah khusus pengembangan karier bagi pegawai tersebut. Hal ini mungkin mirip istilah "It takes two to tango" dalam konsep berpasangan.

Menarik pula ketika salah satu Teman Muda, Bustomi, dalam esainya mengusulkan agar dilakukan pendekatan inklusif untuk mengetahui talenta setiap pegawai, kemudian mengembangkan talenta tersebut, lalu mengubahnya menjadi kinerja yang nyata bagi organisasi. Sejalan dengan itu, perlu dipertimbangkan juga metode penjaringan talenta melalui Virtual Assessment Center yang selanjutnya dibahas Dian Din Astuti Mulia dalam tulisannya.

Namun, bagaimana pun juga, manajemen talenta mustahil direalisasikan tanpa adanya bibit-bibit talenta dalam lingkup instansi itu sendiri. Menurut Guntur Widyanto dalam esainya di buku ini, krisis talenta muda bisa jadi disebabkan oleh rendahnya kesadaran literasi sebagian besar pegawai karena terlalu fokus dengan rutinitas harian yang dilakukan. Bukan hanya literasi dalam hal membaca atau menulis, tetapi dalam definisi yang lebih luas. Anggapan itu memang terdengar agak ironis, tapi rasanya tak ada alasan untuk tak mengamini.

Pada akhirnya, konklusinya sudah jelas bahwa aset instansi yang paling utama adalah SDM yang bekerja di dalamnya. Manajemen talenta seharusnya bukan lagi soal mengidentifikasi pemain inti dalam suatu organisasi, tetapi bagaimana mengembangkan talenta yang dimiliki agar dapat berkontribusi penuh di setiap level organisasi.

Palembang, 18 Februari 2021
~ ditulis saat work from home

Sabtu, 13 Februari 2021

Sudah tahu survei terbaru mengenai pandemi Covid-19? Survei tersebut memprediksi bahwa Indonesia membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk menyelesaikan vaksin dan pandemi global diperkirakan tidak akan selesai sebelum menginjak tahun ke tujuh! Mengerikan, bukan? Keadaan yang seperti itu memaksa orang-orang untuk berjuang sendiri. Setahun pandemi saja, tidak terhitung jumlah pekerja yang dirumahkan, apalagi hingga bertahun-tahun lamanya.

Cara terbaik untuk survive dengan keadaan yang seperti ini adalah dengan mengasah skill pribadi. Tak bisa dimungkiri, para pemberi kerja tidak hanya mengandalkan pekerja yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Terdapat banyak faktor X yang turut mempengaruhi. Dengan memiliki keterampilan yang mumpuni, peluang mendapat pekerjaan jadi jauh lebih terbuka.

Melihat hal itu, pemerintah mencanangkan program Kartu Prakerja sebagai alternatif penambahan kemampuan profesional bagi para pencari kerja. Dengan program ini, para penerima manfaat diberikan dana bantuan pelatihan yang dapat digunakan untuk membeli beragam kelas di banyak platform digital. Meski banyak platform online yang menawarkan pelatihan, sejauh ini kelas prakerja terbaik adalah Skill Academy.

Skill Academy, Platform Pengasah Kemampuan

Di era teknologi informasi seperti saat ini, kemudahan mengakses informasi jadi hal yang lumrah. Apalagi di era pandemi, rasanya semua kegiatan sudah berlangsung daring. Tak heran, layanan berbasis pendidikan juga ikut menjamur termasuk Skill Academy.

Skill Academy merupakan inovasi dari Ruangguru yang fokus pada pelatihan kemampuan individu. Beragam pilihan kelas mulai dari skill menjadi youtuber hingga mengelola keuangan untuk UMKM tersedia di sini. Skill Academy menjembatani para pencari kerja untuk mengakses ilmu langsung dari instruktur terpercaya.

Kalau dulu Skill Akademy bertindak sebagai mitra resmi pemerintah sebagai platform Kartu Prakerja, tapi sejak pembukaan gelombang keempat, Skill Academy hanya bertindak sebagai lembaga pelatihan saja. Namun, ini bukan berarti para penerima program Kartu Prakerja tak bisa lagi menikmati kelas-kelas keren di Skill Academy, sebab prakerja dapat mengaksesnya langsung melalui kanal resmi Skill Academy.

Dari semua platform online yang menawarkan kelas untuk Prakerja, Skill Academy memiliki banyak keunggulan. Nah, inilah 5 alasan kenapa Skill Academy adalah pilihan terbaik untuk prakerja!


1. Tampilan Menarik dan Mudah Digunakan

Ada dua cara untuk mengakses Skill Academy yaitu melalui situs web resminya dan aplikasi. Yang paling penting, keduanya sangat mudah digunakan. Pertama kalian cukup mendaftarkan diri atau masuk melalui akun facebook/gmail kalian. Setelah itu kalian dapat langsung memilih kelas yang kalian butuhkan. Cara pembayarannya pun mudah, mulai dari sistem transfer hingga e-wallet. Untuk pekerja pun dapat langsung mengakses platform mitra Kartu Prakerja. Sehabis itu, kelas sudah bisa kalian lihat dan pelajari. Masih bingung? Tenang, kalian juga bisa cek detail kelas, topik, pengajar, hingga materi apa aja yang bakal didapat!

2. Kelas Keren dan Beragam

Salah satu nilai plus dari Skill Academy adalah range kelas yang beragam. Kelas yang disajikan tak melulu tentang sesuatu yang teknis dan sulit. Banyak pula kelas nonformal yang bisa diambil. Kelas-kelas ini dibagi menjadi beberapa kategori seperti pengembangan diri, bisnis & keuangan, pemasaran, mentoring, teknologi & software, hingga persiapan tes. Mulai dari menulis UX di aplikasi sampai skill jadi youtuber semua lengkap di sini! Tinggal pilih sesuai minat dan kemampuan. Satu lagi yang fantastis yaitu fakta bahwa kelas-kelas ini dapat diakses selamanya! Bagi yang sering lupa, bisa ingat-ingat kembali dengan buka materi di Skill Academy, nih!


3. Instruktur Profesional dan Berpengalaman

Kelas keren tanpa guru yang keren juga tentu rasanya mubazir. Nah, di Skill Academy, seluruh pengajarnya dijamin profesional dan pengalaman. Mereka adalah ahli di bidangnya. Kalian dapat melihat detail instrukturnya di deskripsi kelas yang kalian pilih. Contohnya nih ada Gita Savitri, content creator yang mengajarkan tentang platform youtube, Ivan Gunawan yang bicara tentang fashion, bahkan Fedi Nuril yang siap bantu kalian mengasah bakat sebagai aktor! Bahkan vice president dari korporasi besar seperti Arman Wiratmoko juga memberi materi lengkap di sini. Bukan kaleng-kaleng!


4. Harga Terjangkau, Pas di Kantong

Kalau bicara tentang harga, Skill Academy juga patut diacungi jempol. Dengan beragam instruktur yang profesional di bidangnya seperti yang tadi disebut di atas, harga yang dipatok ternyata masih terjangkau. Belum lagi banyak promo menarik yang bisa dipakai, jadi makin hemat! Bagi penerima program Kartu Prakerja, dana untuk belajar di Skill Academy bisa dipakai untuk ambil hingga 3 kelas, loh! Anti mahal-mahal club!

5. Terukur dengan Sertifikat

Sudah rajin ikut kelas, tapi masih bingung mengaplikasikannya? Eits, tenang saja. Sebagai langkah agar materi di kelas dapat ‘masuk’ ke dalam otak, akan ada tes atau ujian! Jumlah ujian tergantung pada instrukturnya, ya. Namun, nantinya akan ada satu ujian akhir yang menentukan kalian lulus atau tidak. Ujian inilah yang bisa kalian gunakan untuk mengukur kemampuan diri. Apabila berhasil…, kalian bakal dapat sertifikat! Bagi penerima bantuan Kartu Prakerja, sertifikat ini sangat dibutuhkan sebagai bukti telah mengikuti kelas. Dan bagi prakerja biasa, kalian dapat melampirkan sertifikat ini sebagai bukti mengikuti kelas nonformal. Terbaik, kan?

Kelima poin di atas adalah bukti kalau tidak berlebihan mengatakan Skill Academy sebagai platform pelatihan online terbaik untuk saat ini. Apalagi untuk para prakerja yang sedang survive di tengah pandemi agar dapat melatih kemampuan yang mereka punya sehingga ke depannya dapat diaplikasikan. Skill Academy memiliki semua yang dibutuhkan oleh para prakerja.

Sebab jika sudah ada yang terbaik, untuk apa cari yang lain?