Kamis, 30 Desember 2021

21 Film Terbaik Tahun 2021


Pengalaman menonton sepanjang Tahun 2021 ditandai dengan bangkitnya sirkuit festival film dunia dan pembukaan kembali gedung-gedung bioskop di beberapa wilayah. Film-film
blockbuster kembali menghiasi layar lebar kendati layanan platform streaming kini hampir jadi alternatif utama.

Beberapa judul yang akan disebut dalam daftar ini—aku lebih suka menyebutnya sebagai daftar film paling berkesan—tentunya dipilih dengan pertimbangan subjektif. Selain tak semua film yang dirilis pada tahun ini sempat ditonton, semuanya juga bergantung pada preferensi dan selera personal.

Tanpa bermaksud menihilkan Spider-Man: No Way Home sebagai film fan service terbaik tahun ini, apalagi mengabaikan konser-komedi-tunggal rumahan paling menghibur seperti Bo Burnham: Inside, judul-judul film animasi dan dokumenter pun tak akan disebut dalam daftar ini dengan mempertimbangkan berbagai hal. 

So, here are 21 of the best and most memorable movies of 2021!


21. THE CARD COUNTER 
Menggabungkan unsur permainan poker dan misi balas dendam, film ini mengenalkan kita dengan sosok William Tell, seorang penjudi yang mahir menghitung kartu. Kepiawaian itu ia pelajari secara autodidak saat menjadi narapidana di penjara militer. Suatu hari ia bertemu seorang pemuda yang ingin melakukan balas dendam atas apa yang terjadi pada keluarganya. Meskipun motivasi dan intensi para tokohnya terkadang agak kabur, tapi performa Oscar Isaac menutupi segalanya!



20. LAMB
Kehidupan damai dan sunyi sepasang suami istri yang tinggal di lembah terpencil Islandia seketika terusik tatkala salah satu domba peliharaan mereka melahirkan seekor bayi hibrida aneh, yakni berkepala domba dengan tubuh manusia. Maria dan Ingvar yang belum dikaruniai anak pun memutuskan untuk merawat bayi domba itu di dalam rumah layaknya anak sendiri. Walaupun separuh film berjalan seperti drama yang minim dialog, sejujurnya agak sulit mengategorikan film garapan Valdimar Jóhannsson ini. Dikatakan horor, tapi tema yang diangkat justru menjurus pada potret kesedihan. Sedikit absurd, tapi layak diberi atensi.



19. BERGMAN ISLAND
Demi mencari inspirasi untuk proyek film selanjutnya, pasangan filmmaker Chris dan Tony melakukan perjalanan ke sebuah pulau yang disebut Bergman Island, tempat sutradara Ingmar Bergman mengambil gambar untuk film-filmnya sekaligus tempat peristirahatan saat menghabiskan sisa hidupnya. Dengan alur yang lambat dan minimnya konflik, film ini mungkin lebih cocok dinikmati sebagai semibiografi salah satu auteur terpenting di abad ke-20.



18. THE GREEN KNIGHT
Kisah perjalanan surealisme yang dilakukan salah satu Ksatria Knight of the Round Table sekaligus keponakan Raja Arthur yang dikenal sebagai Sir Gawain,  kesatria pedang yang jauh dari kata tangguh. Demi sebilah kapak, ia harus menepati janji menemui Green Knight di Green Chapel, untuk melengkapi kejayaan Arthurian sekaligus membuktikan keberaniannya. Tanpa harus dikemas menjadi epos perjuangan penuh gegap gempita, film ini tetap menyajikan gambar visual yang indah di tangan David Lowery.



17. NOBODY
Sebagai seorang pria biasa dengan pernikahan yang hambar dan rutinitas pekerjaan yang membosankan, sosok Hutch Mansell jelas bukanlah figur suami dan ayah yang diidamkan istri maupun anak laki-lakinya. Hingga suatu hari ia terpaksa mengeluarkan monster yang selama ini beristirahat dalam dirinya setelah insiden perampokan rumah keluarganya. Tak bisa dimungkiri, ini adalah salah satu film aksi terbaik tahun ini!



16. THE INNOCENTS
Pada masa liburan musim panas, sekelompok anak-anak menyingkap kekuatan misterius dan sisi gelap yang ada dalam diri mereka. Film Norwegia yang berjudul asli De uskyldige ini mencoba menyoroti sisi naif anak-anak yang pada masa bermainnya justru berujung pada sebuah petaka berbahaya. Bersiaplah untuk banyak adegan yang bikin ngilu!



15. LAST NIGHT IN SOHO
Dengan visi kreatifnya, kali ini Edgar Wright hadir dengan thriller psikologis yang mengisahkan tentang Eloise, seorang calon perancang busana yang secara misterius memasuki tahun 1960-an dan membuatnya bertemu dengan calon penyanyi yang penuh pesona bernama Sandie. Selain menawarkan visual yang unik dengan membagi Kota London dari sudut pandang dua aktris cantik, film ini juga membawa kita ke dalam ide horor kontemporer yang menarik.



14. BENEDETTA
Setelah merilis Elle (2016), Paul Verhoeven kembali menuai kontroversi dan memicu protes dari pengunjuk rasa Katolik pada pemutaran perdana film terbarunya ini. Membawa unsur agama dan erotika, film yang bercerita tentang kisah biarawati bernama Benedetta ini memotret betapa tipisnya lini antara baik dan buruk. Terlepas dari kontroversinya, ini adalah sebuah drama klasik nan kompleks tentang keyakinan, kekuatan, kejayaan, manipulasi, dan seksualitas.



13. WEST SIDE STORY
Mengadaptasi pertunjukan musikal legendaris tahun 1957, film ini mengisahkan persaingan antara Jets dan Sharks, dua geng remaja jalanan dari berbagai latar belakang etnis dan multiras. Selain konflik cinta terlarang, persaingan dua kubu ini juga dipicu oleh perebutan teritori yang akan hilang akibat pembangunan proyek milik pemerintah. Banyak film musikal yang dirilis tahun ini, dan rasanya kita harus setuju bahwa ini salah satu yang terbaik.



12. I'M YOUR MAN
Di sela-sela profesinya sebagai arkeolog, Alma ditawari untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek uji coba, yakni menjalin hubungan asmara dengan humanoid alias robot android yang menyerupai manusia. Film ini secara tak langsung menjelaskan bahwa manusia tak selamanya harus bergantung pada teknologi. Marren Egget dengan sempurna menyeimbangkan skeptisisme intelektual dari karakter Alma yang muncul akibat hubungan paksa dengan robot. Meski konklusinya sudah dapat diprediksi, film asal Jerman ini tetap menawarkan komedi roman yang segar.



11. THE LAST DUEL
Diadaptasi dari buku nonfiksi berjudul The Last Duel: A Story of Trial by Combat in Medieval France yang ditulis oleh Eric Jager, film ini bukan hanya mengisahkan pertarungan antara Jean de Carrouges dengan sahabatnya, Jacques Le Gris. Lebih dari itu, ia mengangkat berbagai isu mulai dari maskulinitas hingga konsepsi ahli waris, yang berujung pada penindasan kaum perempuan berlatar Prancis di abad ke-14.



10. PETITE MAMAN
Ketika nenek tercintanya meninggal, Nelly yang berusia delapan tahun merasa khawatir jika ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Di rumah misterius dekat hutan tempat neneknya tinggal, bersama kedua orang tuanya, Nelly pun mulai mengulang masa lalu yang tak terduga saat bertemu dengan teman seusianya, yang mirip dirinya. Céline Sciamma selalu berhasil menciptakan sebuah jagat kecil dalam sinema yang puitis.



9. PIG
Seorang pria pemburu jamur truffle yang tinggal sendiri di Oregonian terpaksa kembali ke kehidupan masa lalunya di Portland untuk mencari babi kesayangannya yang baru saja dicuri oleh orang-orang misterius. Meski sekilas tampak seperti John Wick wannabe, tapi film ini justru menyuguhkan aksi balas dendam nonfisik yang cenderung menguras emosi.



8. CODA
Sebagai seorang CODA, abreviasi dari child of deaf adults, Ruby merupakan satu-satunya orang yang bisa mendengar di keluarganya yang semuanya tuli. Ketika bisnis pemasaran ikan milik keluarganya mengalami krisis, Ruby dihadapkan pada pilihan sulit untuk membantu usaha keluarga atau mengejar mimpinya menjadi seorang musisi dan melanjutkan studi di sekolah musik. Mengangkat karakter difabel tentu bukan satu-satunya alasan yang membuat film ini menjadi sajian drama yang menarik. Sebab masih ada Emilia Jones, alasan paling masuk akal untuk membuat kita jatuh cinta saat melihat pesonanya.



7. THE FRENCH DISPATCH
Sebuah tribute untuk jurnalisme surat kabar The New Yorker. Film ini dikemas layaknya kolom-kolom artikel dari berbagai rubrik yang dinarasikan secara deskriptif dengan visualisasi yang memanjakan mata. Dikerumuni deretan aktor dan aktris kelas A, film ini mungkin terasa seperti pertunjukan panggung yang begitu padat, tapi tetap saja tak ada yang mampu membuat film seajaib ini kecuali the one and only Wes Anderson. Takzim!



6. THE HAND OF GOD
Pasang surut kehidupan remaja Fabietto yang sangat mengidolakan Diego Maradona "Sang Tangan Tuhan" berlatar di Naples, Italia, pada circa 1980-an. Melihat potret masa remaja Fabietto semula memang terlihat menyenangkan, hingga kita dihadapkan pada bagian terburuk saat ia mulai kehilangan orang yang disayang. Film berjudul asli È stata la mano di Dio ini seharusnya tak sekadar mengajak kita menyelami duka, melainkan memberi kekuatan: untuk bertahan lebih lama, untuk mencoba lagi, dan untuk melangkah ke level kehidupan yang baru.



5. TITANE
Sebab kelalaian ayahnya saat menyetir mobil, seorang gadis bernama Alexia harus mengalami operasi serius. Kepalanya terpaksa ditanami pelat titanium agar bisa bertahan hidup. Kecelakaan itu ternyata membuat kepribadiannya berubah. Ia mulai terobsesi dengan benda-benda berbahan logam, terutama mobil. Dengan menyajikan jukstaposisi antara kenyataan dan ketidaknyataan, Julia Ducournau kembali mengulang formula body-horror yang lebih blak-blakan dibandingkan Raw (2016). Meski tampak melampaui logika, hampir semua adegan ganjil dalam film ini sukses membuat penonton bergidik ngeri. Film artistik yang gila!



4. THE WORST PERSON IN THE WORLD
Julie tak pernah berkomitmen pada satu hal sepanjang hidupnya. Sebagai remaja berprestasi, ia mencoba masuk ke bidang kedokteran sebelum menemukan bahwa ia lebih tertarik pada masalah kejiwaan. Lantas ia memangkas dan mewarnai rambutnya, mencampakkan kekasihnya, dan beralih ke bidang psikologi sebelum akhirnya banting setir lagi ke dunia fotografi. Seperti remaja lain pada usia 20-an, Julie takut akan pilihan hidup yang tak dapat diubah. Judul film ini seharusnya bukan untuk mendikte hidup Julie, sebab kegamangan menjalani hidup sebagai orang dewasa memang nyata adanya.



3. THE POWER OF THE DOG
Berangkat dari novel berjudul sama karangan Tom Savage, film ini mengangkat latar cerita western klasik pada circa 1925 di Montana. Sepasang saudara pengurus ternak, Phil Burbank dan George Burbank mempunyai sifat yang saling bertolak belakang; yang satu baik dan kalem, sementara satunya lagi manipulatif dan arogan. Secara literal, tak ada anjing yang muncul dalam film ini. Kecuali jika kita ingin meneriaki "Anjing!" di depan muka Phil yang kelewat intimidatif kepada Rose dan Peter, yang notabene adalah adik ipar dan keponakannya. Dalam comeback-nya setelah vakum menyutradarai film panjang selama 12 tahun, Jane Campion mencoba mengusung sebuah kampanye untuk tidak menyakiti siapa pun. Dengan ritme yang cenderung lambat dan tenang, tetap saja ini adalah film yang anjing!



2. C'MON C'MON
Didukung visualisasi hitam-putih dan musik pengiring yang menenangkan, rasanya kita wajib berterima kasih kepada Mike Mills karena telah memberikan selimut yang hangat bagi penonton lewat karakter Johnny, seorang jurnalis radio yang begitu tertarik membicarakan impian generasi muda. Setelah perpisahan yang buruk, kehilangan ibunya, serta hubungan yang tegang dengan kakak perempuannya, Johnny sempat menutup diri untuk semua hal kecuali pekerjaannya. Bersama Jesse, keponakannya yang cerdas dan sensitif, kita akan dibawa ke dalam arus interaksi serta dialog bernas yang menghanyutkan.



1. DRIVE MY CAR
Terinspirasi cerita pendek karya Haruki Murakami, film besutan Ryûsuke Hamaguchi ini mengangkat cerita tentang seorang sutradara sekaligus aktor panggung bernama Yûsuke Kafuku yang memiliki hubungan kompleks dengan istrinya Oto, seorang penulis yang memiliki kebiasaan menggumamkan ide untuk cerita erotis saat sedang bercinta. Terdapat banyak simbolisme yang datang dari momen sederhana, yang lantas menghantui kita dalam durasi hampir tiga jam. Dengan narasi yang tenang dan intens, film ini mengeksplorasi dilema tentang cinta dan kesedihan, yang penuh dengan perjalanan berliku dan koneksi yang tak direncanakan. A stunning experience like no other!

_________________________ 

Kalau kamu, apa saja film favoritmu tahun ini?

3 komentar:

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!