Senin, 14 Maret 2022

Ternyata tak perlu menjadi aktivis seperti Luis Sepúlveda untuk bisa menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup lewat karangan tulisan. Meskipun fiksi tak bisa mengubah realitas, tapi ia bisa memberi cerminan pada aspek yang sangat penting. Mungkin itulah yang menjadi gagasan Rizqi Turama saat menerbitkan kumpulan cerpen Yang Lebih Bijak daripada Peri.


Judul : Yang Lebih Bijak daripada Peri
Penulis : Rizqi Turama
Penerbit : Diva Press
Tahun terbit : 2022
Cetakan : Pertama
Tebal : 156 hlm
ISBN : 978-623-293-630-0


“Ayahmu telah jadi peri pohon tergagah, menjadi pemimpin dari peri-peri pohon yang lain.”
Wajah-wajah itu tersenyum dan membuat Marti kebingungan.
“Tapi…”
“Kami juga baru tahu bahwa hal ini bisa terjadi. Biasanya keluarga terdekat saja yang didatangi mimpi penjelmaan. Mungkin karena alam tahu bahwa kau akan merendah dan akan berbohong, mungkin dengan mengatakan bahwa ia hanyalah kunang-kunang. Maka, ia juga mendatangi kami dan memberi tahu mimpi yang sebenarnya.”

Senyum-senyum semakin mengembang. Marti baru memperhatikan tamu-tamu yang membawa begitu banyak bibit pohon untuk ditanam.

Marti tahu bahwa berkeras menyatakan yang sejujurnya hanya akan memperpanjang kerumitan, baik di hatinya maupun di mata warga. Sekuat tenaga, Marti menyeka air mata yang diterjemahkan warga sebagai air mata haru. Seketika terlintas di benaknya bahwa pohon-pohon pemberian warga akan lebih baik jika ditanam ulang di hutan larangan yang telah menggundul akibat ulah ayahnya. Marti tahu bahwa mungkin inilah waktu yang paling tepat untuk menjadi orang yang lebih bijak daripada peri.

Kamis, 10 Maret 2022

Beri saya waktu enam tahun maka akan saya rangkum problematika perjalanan manusia pada zaman kiwari.” Mungkin itulah yang disampaikan seorang penyanyi solo bernama Tulus pada Tahun 2016, saat ia merilis album musik terakhirnya, “Monokrom”.

Semua pendengar lagu-lagunya pastilah mafhum bahwa pria bernama asli Muhammad Tulus Rusydi itu merupakan seorang pengamat dan tukang curhat yang baik. Suatu hari ia pernah berjam-jam mengamati telapak kakinya, membandingkan sebelah kiri dan kanan, sebelum akhirnya menulis lagu tentang Sepatu. Bahkan ketika mengalami body shaming saat remaja, ia pun menulis lagu Gajah sebagai bentuk penerimaan dan self-healing. Meskipun pada akhirnya tetap termotivasi untuk diet sehat juga.