Selasa, 31 Juli 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Afganistan, Irlandia, dan Korea Selatan.


Genre: Drama, War
THE PATIENCE STONE (2012)

Lebih dari setengah durasi film ini hanya mempertontonkan adegan solilokui seorang istri yang 'curhat' kepada suaminya yang sedang koma. Bisa dibilang adegan tersebut adalah representasi dari judul filmnya sendiri, The Patience Stone, yang juga merupakan alegori dari batu kesabaran (syngué sabour)—batu hitam bertuah dalam legenda Persia yang diceritakan bisa menyerap penderitaan bagaikan spons.

Film produksi Iran-Perancis ini seolah ingin menyuarakan pemikiran-pemikiran perempuan yang ingin menggugat dan mempertanyakan banyak hal, diwakili oleh seorang perempuan-tanpa-nama yang terjebak dalam konflik perang di Afganistan.
Walaupun hanya didominasi obrolan satu arah, tapi penonton akan menangkap banyak sekali protes budaya dan sosial yang ingin disampaikan lewat film ini. Mulai dari isu-isu ketidakadilan yang diterima oleh perempuan di tengah masyarakat patriarki, hingga pikiran-pikiran terliar yang selama ini disimpan rapat-rapat di balik burka yang mereka kenakan.
Atiq Rahimi tahu betul pesan apa yang ingin disampaikan lewat film ini karena ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulisnya sendiri.
Kalau kamu berpikiran terbuka dengan tontonan yang menyinggung isu feminisme, film ini jelas cocok untukmu!

Sabtu, 28 Juli 2018

Berbeda dengan Haris Firmansyah yang beli motor kreditan karena dijebak orang tua, dulu aku beli motor biar nggak tepar tiap pulang kerja.

Sebelum memutuskan ganti motor baru, sebetulnya aku sudah cukup puas punya motor gede tipe sport yang berpotensi dilirik cewek sambil teriak, "Bonceng aku, Mas!" Namun, pada akhirnya aku sadar dua hal. Pertama, ternyata motor gede agak percuma kalau tampang empunya nggak bikin pede. Kedua, pakai motor kopling itu melelahkan, Jenderal!

Bagaimana nggak, motor kopling mengharuskan tangan kita standby mengatur perpindahan gigi persneling untuk mengatur kecepatan. Jadi, tentu saja motor kopling dan kondisi jalan macet bukan kombinasi yang bagus. Sebab semakin macet jalan, makin pegal pula tangan. Rasa-rasanya, motor kopling kurang ramah untuk dipakai di jalanan macet ke kantorku yang jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan dari Palembang.

Setelah mempertimbangkan kalau badan remuk tiap pulang kerja bukanlah ide brilian, aku mulai kepikiran untuk beli motor matik, biar simpel dan nggak rempong oper gigi apalagi main kopling. Pilihan matik pertamaku jatuh ke Yamaha X-Ride keluran tahun 2015.

Yamaha X-Ride - Orange Black - 2015

Senin, 23 Juli 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari India, Thailand, dan USA.

Genre: Drama
UDAAN (2010)

Dalam satu dekade terakhir, banyak sekali film produksi India yang menarik. Udaan mungkin tidak sepopuler 3 Idiots (2009), Taare Zameen Par (2007), atau Bajrangi Bhaijaan (2015); tapi selain kualitasnya bagus, rasanya ini termasuk jenis film bollywood yang langka dan sayang jika dilewatkan.
Bercerita tentang Rohan Singh (Rajat Barmecha), siswa di sekolah asrama yang di-drop out karena ketahuan menonton film 'dewasa' bersama ketiga temannya. Dengan terpaksa, Rohan dipulangkan ke rumah, dan bertemu lagi dengan ayahnya yang sudah tak ia temui selama bertahun-tahun.
Sesampainya di rumah, Rohan harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tetaplah orang yang sama yang mengirimnya ke sekolah asrama delapan tahun lalu. Sosok ayah yang sangat otoriter, keras, dan temperamental. Hanya dua hal yang berubah, yaitu fakta bahwa ayahnya sudah menikah lagi—walau kemudian gagal—dan ada anak berumur 6 tahun yang kini menempati kamar tidurnya.
Udaan adalah film yang sederhana, penuh makna, dan relatable karena sering terjadi di sekeliling kita. Ada begitu banyak anak yang mengubur impiannya karena terhalang idealisme orang tua, seperti yang dialami Rohan ketika ayahnya menolak keras passion-nya sebagai penulis.
Dengan cerita yang intens, film debut Vikramaditya Motwane ini bahkan membuat kita lupa kalau tidak ada pemeran utama perempuan di dalamnya. Sebagai drama coming of age, film ini penuh ironi, tapi sangat realistis.

Jumat, 20 Juli 2018

Aku akan merekomendasikan tiga film di blog ini dan kamu boleh merekomendasikan tiga judul film lain di kolom komentar. Bisa film lama atau baru, dari negara mana pun. Kali ini kita punya film dari Irak, Ukraina, dan Prancis.
BEKAS (2012)
Genre: Drama

Dalam bahasa Kurdi, "Bekas" berarti yatim piatu. Selaras dengan judulnya, film ini menceritakan tentang sepasang kakak-adik tunawisma, tanpa ayah dan ibu, yang hidup di jalanan Kurdistan di Irak pada awal tahun 90-an.
Di bawah rezim Saddam Hussein pada masa itu, memang banyak terjadi pembantaian yang melibatkan bangsa Kurdi. Nasib kehilangan orang tua yang dialami oleh kakak beradik—Zana dan Dana—hanya potret kecil yang disorot film ini sebagai dampak kekejian penguasa Irak.
Di samping latar cerita yang serius dan cenderung sentimental, film ini berhasil menampilkan sisi humor dari kedua tokoh utama yang polos. Saking polosnya, Zana dan Dana hanya punya satu cita-cita: pergi ke Amerika untuk bertemu dengan Superman. Dengan modal naif, dimulailah perjalanan mereka menembus perbatasan Irak dengan ditemani "Coca Cola" dan "Michael Jackson".
Walaupun nggak sampai bikin mbrebes mili, tapi ada beberapa adegan di film ini yang bikin terenyuh. Terutama ketika mereka akhirnya sadar bahwa kebersamaan dalam keluarga bisa mengalahkan kekuatan Superman sekali pun.