Selasa, 17 Agustus 2021


Xemut adalah generasi paling mutakhir dari jenis serangga paling populer yang dulu dikenal dengan nama semut. Sebetulnya aku tidak enak mengatakannya, tapi jujur saja nenek moyangku adalah generasi yang paling payah. Ribuan tahun lalu, semut dikenal sebagai serangga sosial yang hidup di dalam sebuah koloni. Sistem hierarkinya pun kompleks, sebab dalam sebuah koloni biasanya berisikan ribuan hingga jutaan semut. Hidup bergerombol seperti itu menurutku sangat tidak mandiri.


Banyak yang iri dengan hidupku karena xemut adalah hewan paling abadi. Kudengar-dengar, dulu semut pekerja dapat hidup hingga satu sampai tiga tahun, sementara ratu semut dapat hidup selama beberapa dekade. Di sisi lain, malah ada semut pejantan yang menghabiskan hidupnya hanya untuk makan dan mengawini ratu semut, lalu mati. Bahkan tipe semut rendahan itu sampai masuk 'Top 10 hewan dengan usia paling singkat'. Memalukan sekali kalau diingat.


Generasiku pertama kali lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Tubuh xemut sedikit lebih besar daripada semut, dengan warna yang kemerahan dan bercorak bintik putih meski agak samar. Ciri yang lebih spesifik bahwa kami hanya memilik satu antena di atas kepala. Selain berfungsi untuk mendeteksi rangsangan kimiawi dan berkomunikasi dengan semut lain, antena ini juga dapat menjangkau pandangan lebih luas bahkan setara seribu unit CCTV. Itulah yang membuatku mengenal dengan baik tempat ini.


Aku tiba di sini enam bulan yang lalu. Saat itu, tanpa terencana aku iseng bertengger pada sepatu seorang perempuan dewasa yang datang berkunjung kemari. Meskipun aku sudah hidup begitu lama, tapi jujur saja aku tak pernah berpikir untuk mengunjungi tempat ini. Penjara jelas merupakan tempat terakhir yang ingin kudatangi.


Setelah memasuki ruang pendaftaran kunjungan, aku sempat kaget saat perempuan yang aku tumpangi itu tiba-tiba melepas sepatunya dan meletakkannya di sebuah rak. Aku terhempas sekitar beberapa senti dan nyaris terhimpit di sudut tembok ruangan. Kulihat perempuan itu mengganti alas kakinya dengan sandal khusus yang telah disediakan oleh petugas layanan kunjungan. Saat itulah aku baru sadar kalau itu bagian dari prosedur kunjungan, gunanya untuk mengantisipasi agar pengunjung tidak bisa menyelundupkan benda-benda terlarang yang dapat ditaruh di bawah alas kaki milik pribadi.


Sebenarnya ada banyak hal yang sudah kudengar tentang penjara. Tindak kriminal, kejahatan, narapidana, kurungan, sel, jeruji, apa pun yang pasti jarang berkonotasi positif. Namun, berbeda dengan semut yang hobinya berkerumun dan bertendensi kuat menyebarkan gosip pada koloninya, tipe xemut sepertiku tentunya lebih suka melakukan observasi sendiri.


Aku banyak belajar dan merekam hal-hal yang baru kudengar. Dari seorang petugas, aku mengetahui bahwa sebutan penjara asal mulanya dari penjera—tempat untuk membuat orang jera. Tentang penjara yang disebut hotel prodeo, yaitu karena fasilitas di penjara kadang disamakan dengan hotel, sedangkan prodeo berarti gratis. Belakangan aku juga baru tahu kalau istilah kepenjaraan di Indonesia sudah diganti menjadi pemasyarakatan sejak 27 April 1964. Sebutan penjara pun sudah diperhalus menjadi Lembaga Pemasyarakatan atau LP/Lapas.


Banyak peristiwa menarik yang sudah terjadi di tempat ini. Dari seorang narapidana senior yang hobi mengobrol dengan rekan sekamarnya, aku jadi tahu kalau sejarah sikat gigi pun tercipta di penjara. Katanya, ide pembuatan sikat gigi pertama kali dibuat oleh seorang pria Inggris bernama William Addis saat ia berada di penjara sekitar tahun 1780. Ketika itu si Addis mencoba membersihkan giginya dengan tulang dari sisa makan malamnya, lalu ia kombinasikan dengan bulu sikat yang dipinjam dari penjaga tahanan.


Cerita itu pun ditimpali oleh penghuni kamar yang lain, lalu obrolan ringan itu mendadak menjadi ruang diskusi sejarah. Napi yang satu ini tadinya masih setia rebahan di atas matras sambil sesekali menggaruk bekas tindik di kupingnya yang sangat mencolok, tapi ia bangkit karena merasa perlu berpartisipasi dalam forum. Namanya Ibenk, tahanan kasus maling.


“Kalian tahu asal mula tato?” tanya Ibenk penuh antusias. Pertanyaan itu mendapat berbagai macam reaksi dan beragam jawaban yang sebagian besar tidak rasional. Rasanya aku ingin merangkak dan melakukan tindakan kekerasan terutama kepada salah satu dari mereka yang baru saja menimpali, “Mungkin dulunya untuk menutupi bekas kurap.” Mereka kompak tertawa, padahal menurutku itu lelucon yang tidak lucu. Maklum saja, selera humor xemut memang tinggi.


Kemudian Ibenk becerita kalau dulunya tato itu pertama kali dibuat untuk menandai setiap tahanan penjara. Sipir akan memberikan tanda di badan setiap tahanan yang baru masuk ke dalam penjara, sebagai bukti mereka pernah terlibat kasus kejahatan. Itulah sebabnya kenapa pernah muncul stigma kalau tato merupakan simbol kriminal, jauh sebelum tren tato sebagai bagian seni dan kultur pop seperti sekarang.


Untuk cerita yang barusan itu, sebetulnya aku belum sempat melakukan validasi atas kebenarannya, jadi boleh saja dianggap sebagai legenda urban. Kurasa keluarga besar xemut pun kurang tertarik dengan cerita semacam itu.


Beberapa hari lagi, generasi xemut akan mengadakan perayaan tahunan, tapi aku masih terjebak di tempat asing ini. Aku jadi mulai khawatir sebab entah kenapa aku mulai nyaman berada di sini. Alih-alih menjadi kawasan penebusan dosa, aku merasa tempat yang dikelilingi oleh tembok beton tinggi ini lebih menyerupai sekolah atau malah pesantren. Kamar-kamar hunian sudah serupa asrama. Beberapa waktu lalu saat diadakan pelatihan di bengkel kerja yang diikuti oleh para tahanan, kudengar Kepala Lapas menyampaikan kalau tujuan dari konsep pemasyarakatan itu bukan untuk menghukum, tetapi membina. Ini juga yang jadi alasan kenapa narapidana sekarang lebih sering disebut sebagai warga binaan pemasyarakatan.


Saat ini, lapas sudah berfungsi sebagai lembaga katarsis. Sebuah mikrokosmos sosial yang masih memelihara hak-hak manusia sebagai warga binaan. Mereka yang berada di dalam lapas hanya dianggap sebagai kumpulan orang yang tersesat, yang nantinya akan dibimbing untuk kembali ke jalan yang sesuai tatanan hukum.


Plak! Tiba-tiba aku merasakan kepalaku sedang dikeplak. Antena yang tadinya mencuat di kepalaku sontak menciut dan menyusut. Kulitku yang tadinya berwarna kemerahan secara perlahan berubah menjadi kecokelatan seperti kulit manusia. Kemudian mataku mengedip dengan pelan.


“Sudah sadar belum?” Suara itu rasanya cukup familier. Itu suara Ibenk, teman sekamarku sejak aku ditempatkan di sini enam bulan yang lalu.


Bang Addis, panggilan akrab kami kepada kepala kamar yang lebih senior itu, mengeplak kepalaku sekali lagi. Memastikan aku sudah sadar dari lamunan panjang. “Aku perhatikan kau makin hari jadi makin sering bengong, ya?” sosornya.


“Ya maklum, Bang, kan sebentar lagi bakal dapat remisi umum di hari kemerdekaan.”


 

Palembang, 12 Agustus 2020