[Review] 1970 — Henrique Schneider

Di balik gemerlap final Piala Dunia 1970 yang membawa Brasil meraih gelar juara untuk ketiga kalinya, rupanya tersimpan konflik panas yang melibatkan rezim militer Brasil yang berusaha memberantas kelompok komunis yang dianggap menentang pemerintah.

Sayangnya, operasi yang dilakukan dengan cara menangkap diam-diam, menyekap, dan menyiksa individu yang diduga terkait dengan komunisme, pada satu waktu justru menyasar masyarakat sipil yang tak bersalah. Ialah Raul Dos Santos Figueira, pemuda 25 tahun dan seorang pegawai bank biasa, yang menjadi korban salah tangkap aparat militer Brasil.


Judul : 1970
Penulis : Henrique Schneider
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun terbit : Agustus 2023
Cetakan : Pertama
Tebal : 134 hlm
ISBN : 978-602-0788-44-9


21 Juni 1970. Final Piala Dunia 1970. Brasil lawan Italia. Seorang pemuda dilepaskan ke jalanan begitu saja dari sebuah mobil. Lebih dari seminggu sebelumnya dia diculik oleh aparat rezim militer, disekap dan disiksa atas tuduhan subversif. Pemuda itu—seorang pegawai bank biasa—tahu bahwa negerinya berada di bawah kediktatoran militer, tetapi tak pernah menggubrisnya atau menganggapnya masalah. Politik adalah hal yang dia rasa jauh dari kehidupan sehari-harinya. Sampai tiba malam penculikan dan penyekapan itu, politik dan tuntutan akan kebebasan tiba- tiba memperoleh makna baru baginya.

Namun di tengah keriuhan warga mengelu-elukan tim nasional Brasil berlaga di final Piala Dunia, adakah yang peduli dengan penderitaannya, adakah yang mendengar kisahnya? Lebih penting lagi, benarkah dia sudah bebas?


Novel karangan Henrique Schneider yang aslinya ditulis dalam bahasa Portugis ini, jelas bukanlah jenis bacaan yang ramah bagi pembaca yang tak tahan dengan adegan kekerasan eksplisit. Hampir di sepanjang narasi, penulis mendeskripsikan kondisi Raul menghadapi berbagai bentuk penindasan demi menanggung tuduhan subversif yang tak pernah ia lakukan.

Selain dipaksa mengakui bahwa ia seorang komunis, Raul juga mendapat tekanan untuk mengaku kalau ia terlibat dalam upaya penculikan seorang konsul Amerika Serikat. Mungkin bagian ini terasa dejavu, sebab apa yang dialami oleh Raul seakan-akan mencerminkan pola umum yang jamak terjadi di negara-negara otoriter.

Menjadikan sepak bola sebagai alat politik memang bukan barang baru di beberapa negara maju. Termasuk di Brasil pun, kemeriahan pertandingan sepak bola tak ubahnya tameng untuk menutupi bobroknya birokrasi pemerintah. Raul hanya secuil contoh dari wujud ketidakadilan dan gambaran kegagalan sebuah negara dalam menghadirkan rasa aman bagi penduduk sipilnya.

Meski pada akhirnya dilepaskan dari sel tahanan, tepat saat pertandingan Brasil versus Italia berlangsung, Raul justru tak sedikit pun merasa bebas. Fisiknya boleh saja selamat, tetapi perasaan traumatis masih terus menghantuinya tak kenal tempat. Bahkan saat Pele, dkk. mengangkat piala juara, ia sudah mati rasa untuk sekadar menghadiahi tepuk tangan.

Bagi Raul, euforia kemenangan itu tak ubahnya alat propaganda untuk menunjukkan kedigdayaan sebuah negara kepada dunia. Ia tak pernah sekali pun mengira kalau hari-hari muramnya sudah dimulai bersama dengan gegap gempita perayaan semu atas nama sepak bola.

Posting Komentar

0 Komentar