[Review] Sabar Tanpa Batas — Adhitya Mulya

Setelah beres membaca novel ini, aku jadi mengecek ulang judul-judul buku karangan Adhitya Mulya yang sudah kubaca. Ternyata sudah hampir semuanya, kecuali dua seri novel Bajak Laut yang entah kapan akan dilanjut.

Bagi pembaca setianya, Sabar Tanpa Batas mungkin akan dianggap sengaja ditulis Kang Adhit untuk mengekor kesuksesan Sabtu Bersama Bapak, meskipun pada dasarnya konsep yang ditawarkan di sini jauh berbeda.



Judul : Sabar Tanpa Batas
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : Juli 2023
Cetakan : Pertama
Tebal : 264 hlm
ISBN : 9786234930245

Si Sulung kerap menjadi andalan keluarga dan contoh bagi adik-adiknya. Tak ada pilihan, Ocay, sang anak pertama, mesti berjuang untuk hidupnya sendiri dan kedua adiknya, saat orang tua mereka tiada. Mimpi-mimpi Ocay telah dia kubur lebih dulu, demi masa depan Ike dan Irma. Rasanya hidup ini tak adil karena memberikan dia banyak derita tanpa henti. Meski begitu, pengorbanan dan amalan-amalan baik tak putus dia lakukan.

Si Tengah adalah sosok yang selalu diandalkan sang kakak. Ketika Ocay memilih menjadi pekerja migran di negeri nun jauh, Ike diharapkan mampu mandiri dan menjaga sang adik. Tak tinggal diam, demi menambah penghasilan, Ike pun giat bekerja dan tetap mengutamakan sekolah. “Kalian harus tetap sekolah,” pesan Ocay kepada adik-adiknya.

Si Bungsu sering dianggap manja. Namun, berbeda dengan Irma yang hidupnya penuh derita sejak lahir, ia tak bisa asyik sendiri. Dia tahu, bahwa kakak-kakaknya telah berjuang keras demi hidup. Irma membantu yang ia bisa dan terus rajin belajar. Ia percaya, pendidikan mampu membawa seseorang meilihat dunia lebih luas.


Ini adalah cerita tiga bersaudara tanpa ayah-ibu yang berusaha untuk terus sekolah, meski untuk hidup saja susah. Berbagai cara dilakukan si sulung, bekerja apa saja demi pendidikan kedua adiknya. Dan di antara usaha yang dilakukan oleh mereka, selalu ada doa-doa yang menyertai.

Betul, ini adalah novel drama keluarga. Meskipun Kang Adhit lebih dikenal sebagai penulis komedi, tapi ia mencoba menawarkan hal baru lewat novel ini. Seperti seorang bapak bijak yang ingin mewariskan petuah hidup secara gamblang kepada anak-anaknya.

Kalau kamu merindukan tokoh komikal atau suguhan komedi lewat catatan kaki seperti ciri khas Jomblo, silakan buang jauh-jauh keinginan itu. Hampir tak ada sentuhan komedi ala Adhitya Mulya dalam novel ini. Sebab, yang ditawarkan di sini hanyalah drama dan tragedi para karakternya.

Gambaran karakter Pak Eep dalam novel ini, misalnya, adalah antitesis dari Gunawan Garnida, sosok bapak teladan dalam Sabtu Bersama Bapak. Perjuangan Gege dalam Gege Mengejar Cinta mungkin juga tak ada apa-apanya dibandingkan usaha Ocay dan adik-adiknya dalam mengejar nasib yang lebih baik. Petualangan Ocay bekerja ke luar negeri pun tak kalah heboh jika dikomparasi dengan perjalanan Jusuf dalam Travelers' Tale.

Di sisi lain, sepertinya novel ini sengaja ditulis mengalir apa adanya dengan pengembangan plot yang cenderung cepat dan lompat-lompat, persis seperti Mencoba Sukses, yang dulu kuanggap sebagai novel eksperimental beliau.

Bisa jadi, novel ini pun bentuk eksperimen Kang Adhit untuk menjaring pembaca baru yang lebih menyukai konflik sinetron-ish dan juga siap disuguhi narasi pilu yang bikin haru.

Mungkin kamu salah satu pembaca itu?

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Tiap chapter pasti butuh waktu jeda sebelum lanjut baca untuk sesegukan dan menyeka air mata yang ngga berhenti

    BalasHapus
  2. Pas liat judul ini tak kira ini buku self improvement. Ternyata novel, oke catet. Buku ini tak masukin wishlist buat 2024 nanti

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!