[Review] Era Emas Film Indonesia 1998-2019 — Garin Nugroho

Dengan mudahnya akses terhadap film-film karya sineas lokal seperti sekarang ini, memang sudah selayaknya ada percakapan lebih lanjut tentang film di luar produksi gagasan. Dewasa ini film bukan hanya ditonton, tapi juga harus didiskusikan, sehingga ada pertukaran perspektif dan informasi.

Diskursus tentang film mungkin bisa mudah kita temukan dalam berbagai tulisan di media massa maupun elektronik, baik ditulis oleh penonton, pengamat, atau bahkan pegiat film itu sendiri. Namun, jika kita ingin mengetahui sejarah perfilman Indonesia terutama pascareformasi, mungkin tidak ada yang lebih pantas menuliskannya selain sutradara senior, penulis, kritikus, sekaligus dosen film sekaliber Garin Nugroho.

Garin sebagai salah satu pelopor kebangkitan film Indonesia di tengah krisis dekade 90-an, melalui buku memoarnya yang berjudul Era Emas Film Indonesia 1998-2019, mencoba menyusuri lorong waktu ingatan dari tiga dekade kiprahnya di dunia perfilman.⁣


Judul : Era Emas Film Indonesia 1998-2019
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Warning Books
Tahun terbit : September 2020
Cetakan : Pertama 
Tebal : 228 hlm
ISBN : 9786239330439

"Buku ini berbentuk mosaik kenangan-kenangan ensiklopedik Garin Nugroho tentang perfilman Indonesia. Menarik, karena Garin justru berangkat dari masa kini, perfilman Indonesia pasca-Reformasi 1998. Sang sutradara kugiran membingkai perfilman mutakhir kita dengan pengalamannya sejak kecil menikmati film dan tiga dekade lebih berkarya, menempatnya dalam sebuah peta perfilman global." - Hikmat Darmawan (kritikus & pengamat budaya popular)

Melalui analisis yang dilakukan dengan pendekatan pengalaman dan nostalgia personal, dalam buku memoar ini Garin tak hanya melihat film sebagai teks, tapi juga konteks. Ia memetakan pandangannya dalam berbagai catatan mulai dari pembahasan film superhero, sutradara perempuan, film laga, aktor ternama, film remaja, genre komedi dan horor, hingga isu agama sampai sejarah sensor.

Memang tak bisa dimungkiri bahwa film adalah produk yang lahir dari pengaruh industri. Oleh karena itu, Garin juga mencoba membaca karya-karya sutradara pascareformasi yang mengantarkan Indonesia ke masa keemasan. Maka disebutlah nama-nama penting seperti Deddy Mizwar, Riri Riza, Nia Dinata, Joko Anwar, Mouly Surya, Teddy Soeriaatmadja, hingga Kamila Andini dan Ifa Isfansyah yang notabene anak dan menantunya sendiri.

Meski di beberapa bagian terkesan sangat subjektif, membaca sejarah film lewat kacamata Garin sama seperti saat kita menikmati sinema garapannya; tetap menarik sekalipun berangkat dari kegelisahan pribadi.

Pada akhirnya, buku ini memang layak dibaca, terutama jika kamu butuh referensi lebih luas terhadap karya sineas lokal agar tak perlu lagi menggerutu, "Film Indonesia kok begitu-begitu saja!"

Posting Komentar

0 Komentar