Sabtu, 31 Oktober 2020

Horor Tidak Melulu tentang Teror


Film horor biasanya fokus terhadap dua hal: why people hurt one another, and what happens when we die. Mulai dari kisah tentang pembunuhan berantai, mayat hidup, pengabdi setan, kanibalisme, hingga monster-monster yang bisa berubah menjadi raksasa.

Yang harus disadari, sebetulnya film horor tidak menciptakan kekerasan dan kematian—sebab keduanya sudah eksis bahkan sebelum bioskop ada—mereka hanya mencerminkannya dalam gerak gambar.

Konsepsi horor terkadang secara emosional dan psikologis melibatkan ketakutan terbesar kita, terutama ketakutan kita akan kematian. Selain menjadi katarsis, film horor juga secara tidak langsung telah mengajak kita mempertanyakan tentang kemanusiaan kita sendiri.

Saat menonton film horor, kita sering kali latah berteriak di depan layar. "Jangan buka pintunya!" "Jangan pergi ke gudang bawah tanah!" "Jangan masuk ke hutan, goblok!" Tetapi dalam hati kecil, kita butuh sang tokoh untuk pergi ke sana, sebab kita pun ingin tahu ada apa di sana. Sebagian orang mungkin membenci perasaan takut, gelisah, bahkan tidak nyaman yang disebabkan menonton film horor. Padahal sebetulnya itulah esensinya, kita dilatih untuk melawan rasa takut itu. Teorinya begitu, kan?

Menariknya, saat ini perkembangan genre horor sudah semakin luas, bahkan cenderung mendorong batasan dan mengeksplorasi tema-tema kuno dengan cara yang lebih imajinatif. Coba saja googling, horor dewasa ini sudah banyak melahirkan sub-genre mulai dari horor aksi, horor komedi, horor psikologi, horor fiksi ilmiah, horor supernatural, atau yang lebih spesifik lagi seperti slasher, splatter, hingga zombie.

Sebagai sub-genre, film zombie pun bisa menghasilkan sub-genre lain seperti zombie comedy yang pada umumnya tampil sebagai black comedy. Sebut saja Shaun of the Dead (2004), Zombieland (2009), hingga Little Monsters (2019) yang semuanya sukses menjadikan paguyuban mayat hidup kehilangan harga diri di hadapan komedi. Belum lagi kita bicara tentang film berjudul Kamera o tomeru na! alias One Cut of the Dead (2017), salah satu mahakarya film zombie yang absurditasnya mungkin belum pernah kita temui dalam semua film komedi, film  zombie, film komedi-zombie, bahkan film komedi Jepang tentang zombie.

Pada akhirnya, membicarakan film horor tidak melulu tentang teror lagi. Horor dan ketakutan tidak harus selalu berada di satu garis lurus. Omong-omong soal takut, aku jadi ingat salah satu kutipan yang sampai sekarang cukup ampuh untuk dijadikan pedoman dalam menonton film horor bagi para pemula. 

"Hanya orang takut yang bisa berani. Karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya."


Menonton film horor, hmm siapa takut? 

1 komentar:

  1. Dulu nonton horor cuma untuk menurunkan berat badan karena sempat baca nonton film horor bisa membakar kalori. Cara mager untuk diet. Ha ha ha

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!