Selasa, 19 Mei 2020

Narasi Pahlawan dan Nasib Chakra di Tangan Vikramaditya Motwane

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa almarhum Stan Lee, yang dikenal sebagai co-creator karakter superhero populer seperti Hulk, Thor, Iron Man, dan X-Men, sebelum akhir hayatnya pernah menciptakan karakter superhero India pertama yang dikenal dengan Chakra: The Invincible.

Karakter itu pertama kali diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran komiknya yang berjudul sama pada tahun 2011. Lalu, dua tahun kemudian serial animasinya pun menyusul dirilis dan disiarkan di Cartoon Network India.


Chakra: The Invincible berkisah tentang seorang bocah laki-laki bernama Raju Rai yang berasal dari Mumbai, India. Bersama mentornya Dr. Singh, Raju berusaha mengeksplor kekuatan tubuh manusia dengan teknologi sains. Sampai akhirnya mereka pun berhasil merancang sebuah kostum yang dapat mengaktifkan kekuatan cakra di tubuh manusia.

Pada tahun 2016, tersiar kabar kalau Vikramaditya Motwane akan menyutradarai film live-action dari Chakra: The Invincible. Graphic India dan POW! Entertainment telah mengumumkan kemitraan dengan Phantom Films untuk memulai praproduksi film tersebut. Namun, sayangnya hingga Stan Lee wafat pada akhir tahun 2018, film itu belum juga selesai digarap. Pupus sudah harapan kita untuk melihat sang kreator menjadi cameo dalam film superhero ini.

Penundaan rilisnya Chakra: The Invincible, yang entah karena alasan apa, ternyata tidak membuat Sir Motwane mengubur impiannya membuat film superhero. Pada tahun 2018, ia telah menggarap film origin story superhero yang meskipun tidak sukses secara komersial, tetapi banyak mendapat ulasan positif.


Bhavesh Joshi Superhero, pemanasan dari Motwane

Film ini bermula ketika tiga sahabat yaitu Bhavesh (Priyanshu Painyuli), Siku (Harshvardhan Kapoor), dan Rajat (Ashish Verma) yang terobsesi menegakkan keadilan, membuat kanal "Insaaf TV" di Youtube untuk mengekspos perilaku negatif masyarakat di Kota Mumbai. Dalam konten daring itu, mereka ingin menegur sekaligus mempermalukan orang-orang yang melakukan kesalahan, mulai dari mereka yang melanggar rambu lalu lintas, membakar sampah di jalan, menebang pohon kota secara liar, atau sekadar pipis sembarangan.

Pada saat salah satu dari mereka dihadapkan dengan bobroknya birokrasi pembuatan paspor di sebuah Kantor Imigrasi, serta satunya lagi ingin membongkar konspirasi di balik kasus krisis air bersih bagi rakyat kecil, di saat itulah perlawanan yang sesungguhnya dimulai.

"How will we change this country?"
"With small steps."


Berbeda dengan film-film Vikramaditya Motwane sebelumnya yang mengangkat tema dan ide cerita sederhana seperti Udaan (2010), Lootera (2013), dan Trapped (2016), film ini lebih berani karena mengangkat isu sosial-politik yang sangat relevan, mengingat India memang dikenal sebagai negara paling korup se-Asia. 

Tentunya tak perlu muluk untuk mengomparasi Bhavesh Joshi dengan deretan nama karakter setenar Bruce Wayne, Peter Parker, atau Tony Stark. Sebab yang perlu dicatat, Bhavesh Joshi di sini telah mengembalikan esensi utama menjadi superhero, yaitu melawan ketidakadilan meskipun sadar bahwa risiko kegagalan amat besar.

Kalau mau menilik latar belakang sang superhero yang terlahir dari metode trial and error, bukan hanya mengandalkan mukjizat dari Tuhan atau tertolong canggihnya kostum buatan, film ini jelas terasa sangat humanis. Transisi karakter Bhavesh Joshi dari yang semula hanya vigilante bertopeng layaknya V for Vendetta atau Kick-Ass, yang maunya main hakim sendiri, lantas kemudian menjadi figur pahlawan pun sangat realistis dan beralasan.

Meskipun masih ditemukan beberapa lubang plot, film ini telah berhasil membawa angin segar bagi perfilman India khususnya di ranah Bollywood. Rasanya sudah tidak perlu berekspektasi lebih dari ini, apalagi mengingat bagaimana gelinya penonton ketika dulu dihadirkan sosok Ra.One, Krrish, atau A Flying Jatt.


Nasib Chakra: The Invincible berada di tangan yang tepat

Meskipun film-film Motwane secara keseluruhan berbeda tema, tapi semuanya memiliki satu kesamaan. Semua karakter dalam filmnya adalah orang-orang yang terperangkap: Rohan berada di rumah dengan seorang ayah yang otoriter dalam Udaan; Pakhi dan Varun terkungkung oleh pilihan hidup dan lingkungan sosial mereka di Lootera; Shaurya terperangkap secara harfiah dalam Trapped; dan Siku yang harus menyatu dengan semangat Bhavesh Joshi.

"Saya suka film-film yang mendapatkan penyadaran di akhir—semacam momen pelarian," kata Motwane dalam suatu wawancara. "Saya merasa ini berasal dari kenyataan bahwa para pahlawan saya selalu tampak ayal, hingga kemudian mereka mendapat kekuatan untuk melakukan apa yang seharusnya mereka miliki selama ini."

Yang disebut oleh Motwane di atas tentu saja tipikal narasi kepahlawanan yang superklasik, tapi seharusnya bisa jadi modal yang sangat berguna ketika pada akhirnya ia benar-benar menghadirkan Chakra versi nyata ke hadapan kita.

______
Referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!