Senin, 30 Maret 2020

Mengenang Misbach Yusa Biran, Sang Arsip Film Indonesia

Ketika membicarakan sejarah film nasional, mungkin nama yang akan terus kita ingat adalah Usmar Ismail, sebab ialah pelopor perfilman Indonesia. Setiap tanggal 30 Maret telah dicatat sebagai Hari Film Nasional untuk memperingati hari pertama proses pengambilan gambar film Darah & Doa (1950) atau Long March of Siliwangi yang disutradari olehnya. Namun, jika kita membicarakan sosok yang bisa dibilang paling berjasa melestarikan dokumentasi perjalanan film Indonesia maka nama itu pastilah Misbach Yusa Biran.

Sebut saja latah, tapi aku mulai tertarik 'mengenal' sosok beliau ketika suatu hari di tahun 2018 tidak sengaja melihat Sherina Munaf memberikan ulasan singkat setelah menuntaskan membaca buku karya Pak Misbach di akun Instagram-nya. Tentu saja buku-buku itu sudah langka, bahkan Sherina mengaku dipinjamkan koleksi buku omnya, Riri Riza. Makanya boleh dibilang mujur ketika beberapa waktu lalu aku berhasil menemukan "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" sekaligus di library Gramedia Digital.


Berkenalan dengan Pak Misbach dari buku yang ia tulis, alih-alih dari film yang ia sutradarai, rasanya memang agak canggung. Apalagi setelah tuntas membaca kedua buku tersebut, ternyata isinya bukanlah tentang film, melainkan hanya kumpulan nukilan kisah di balik aktivitas seni pembuatan film yang digeluti Misbach Yusa Biran dalam medio tahun 1950-an.

Meskipun begitu, aku terpaksa harus mengamini apa yang dikatakan Sherina dalam ulasannya bahwa Pak Misbach memang storyteller yang keren. Tulisan beliau effortlessly dan sangat jenaka. Membaca  "Keajaiban di Pasar Senen" dan "...Oh, Film" jadi terasa penting karena secara tak langsung Pak Misbach telah menangkap gelagat perfilman Indonesia dari zaman ke zaman lewat tulisannya, bahkan masih sangat relevan dibaca puluhan tahun kemudian setelah diterbitkan pertama kali pada 1971 dan 1973.

Seno Gumira Ajidarma

Lewat tulisan-tulisannya, Pak Misbach semakin mempertegas bahwa selain dikenal sebagai sutradara, penulis skenario, sastrawan, hingga gelar kehormatannya sebagai juru selamat arsip film Indonesia, ia adalah pengamat yang jeli atas kehidupan para 'seniman' di Pasar Senen pada masa itu.

"Film bisa mengemban suatu pesan yang penting," kata Pak Misbach dalam potongan wawancara beliau di film dokumenter berjudul Behind the Flickering Light (The Archive) yang dirilis pada tahun 2013. Film dokumenter karya sutradara Hafiz Rancajale itu merupakan bentuk penghormatan kepada Alm. H. Misbach Yusa Biran, yang dianggap sebagai salah satu tokoh sentral dalam sinema Indonesia modern. 


Bagi Pak Misbach, arsip film adalah rekaman kehidupan modern yang paling akurat

Rasanya film tentang 'Sang Arsip' tersebut penting untuk ditonton agar mengenal lebih jauh sosok Pak Misbach sebagai tokoh kontroversial dalam pergerakan budaya dan politik Indonesia. Di situ juga dikorek sisi-sisinya yang lain sebagai salah satu pendiri Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebagai bocah nakal dari Lebak, Jawa Barat, dan juga sebagai seorang suami dan ayah.

Film itu juga mencoba membaca gagasan pengarsipan film dalam pikiran Pak Misbach yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk membangun lembaga pengarsipan film yang kita kenal dengan Sinematek Indonesia pada tahun 1975.

Riri Riza

Saat itu, ia memutuskan berhenti menjadi sutradara dan memilih untuk menjadi seorang arsiparis film. Di Sinematek, Pak Misbach menyusun dokumentasi film Indonesia sejak mula, termasuk menemukan dan menyimpan film-film lama dari awal sejarah perfilman Indonesia tahun 1920-an. Melalui pemikirannya, Sinematek Indonesia lahir dan menjadi arsip film pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran Sinematek tidak dapat dilihat hanya sebagai ruang penyimpanan artefak sejarah, tetapi juga sebagai pelestarian ide-ide dan wacana dalam perjalanan sinema Indonesia.

_____________

Misbach Yusa Biran lahir di Rangkasbitung, Banten, 11 September 1933. Ia adalah suami dari aktris senior Nani Wijaya dan ayah kandung dari aktris muda pemeran "Ronaldowati" yang sempat jadi perbincangan hangat pada circa tahun  2004, yaitu Almh. Sukma Ayu.

1 komentar:

  1. Baru kali ini sih saya mendengar nama tokoh Pak Misbach Yusa Biran. Dan ternyata eh ternyata beliau adalah suami Nani Wijaya. Beneran informatif banget.

    Saya justru pengen tahu Sinematek ini sampai sekarang apakah masih ada?

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!