Sabtu, 29 Februari 2020

[Review] Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya — Dea Anugrah

Pada tahun 1971, kalangan wartawan pernah mengalami kebuntuan saat mencari padanan “relax” dalam bahasa Indonesia. Ternyata kata “santai” yang kita gunakan saat ini pertama kali dicetuskan oleh Bur Rasuanto, penanggung jawab rubrik ekonomi majalah Tempo ketika itu. Ia mengusulkan “santai” untuk padanan “relax” yang diserap dari bahasa Komering di Sumatera Selatan, kampung asal puaknya Bur.⁣

Wawasan di atas hanya secuil ihwal menarik yang kucatat setelah menamatkan kumpulan prosa nonfiksi dan reportase pertama yang dibukukan oleh Dea Anugrah, yang lebih dulu dikenal sebagai penulis fiksi cerita pendek maupun kumpulan puisi.⁣



Judul : Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Penulis : Dea Anugrah
Penerbit : Buku Mojok
Tahun terbit : 2019
Cetakan : Ketiga
Tebal : 181 hlm
ISBN : 978-602-1318-81-2


Dea Anugrah menulis puisi, kemudian cerita pendek, terutama untuk menghibur diri. Ketika buku-bukunya—Misa Arwah (2015) dan Bakat Menggonggong (2016)—terbit, dia bersiap dihajar komentar-komentar keji dan laporan penjualan yang mengenaskan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: buku-buku itu diterima dengan baik.

Buku ini adalah bunga rampai nonfiksi pertamanya. Ia membicarakan mulai dari perang sampai industri pisang, dari kesedihan kolektif sebuah bangsa hingga seni membikin senang bagian tubuh tertentu.



Meskipun beberapa subjudul pernah kubaca di portal elektronik, tetap saja tak mengurangi impresi terhadap ragam topik yang ditulis Dea dalam buku ini. Dengan perspektif yang menarik, ia membicarakan mulai dari industri pisang, dunia sinematik Clint Eastwood, akun Facebook orang mati, keadaan di Iraq sampai Meksiko, hingga tentang bagaimana karya Hemingway dinilai dengan standar politis baru.⁣

Buku ini laiknya magnet, sebab dapat dibaca selagi buang hajat paling masyuk atau dihabiskan dalam sekali duduk. Pada bagian tertentu, pembaca bisa saja berhenti sejenak untuk sekadar berkontemplasi.⁣

Dalam satu judul, Dea ingin 'menceramahi' kita bahwa dunia yang ideal itu hampir tidak ada. Ia mengatakan, “Dunia ideal, bagi saya kini, cuma selaput tipis di kaki langit yang terus menjauh saban kita mendekatinya. Yang ada hanyalah dunia ini beserta hidup yang bergulir terus, terus, di dalamnya."⁣

Bagian favoritku tentu saja tulisan penutup yang dijadikan judul buku ini. Sinyalir agar kita siap menerima segala bentuk predestinasi, entah puas atau kecewa, karena memang hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.

3 komentar:

  1. Saya kayaknya belum pernah membaca buku esai macam buku ini. Entah apa yang dirasa dan dipahami ketika satu buku memuat banyak pikiran penulis untuk banyak hal. Bisa saja membuat kita memikirkan serupa, atau bisa saja membuat kita tidak menemukan maksud si penulis.

    Kayaknya sampai saat ini saya lebih suka membaca kumpulan cerita pendek yang jelas-jelas punya tokoh dan konflik yang lebih dinamis.

    BalasHapus
  2. Selain yang jadi judul buku, bagian kesukaan saya esai tentang efek Proust, Hemingway, merancap, cemooh para penulis, dan yang liburan ke pulau terus pengin kencing dari atas mercusuar.

    BalasHapus
  3. Baca tulisan Dea Anugrah ini ngasih vibe yang sama seperti baca tulisan Roy Saputra nggak sih, Kang Ridho?

    BalasHapus

Silakan berkomentar. Lihat apa yang akan terjadi!