Sesaat dan sesudah menulis daftar film Korea favorit beberapa bulan lalu, aku mengenal beberapa sutradara asal Korea Selatan yang sering membuat film-film bagus, seperti Park Chan-wook (Oldboy, The Handmaiden), Kim Ki-duk (The Isle, 3-Iron), dan Kim Jee-woon (I Saw the Devil,  A Tale of Two Sisters). Selain mereka, ada satu lagi sutradara yang filmnya selalu bagus dan nggak pernah mengecewakan, yaitu Bong Joon-ho. Selama masih diberi karunia hidup, minimal satu filmnya yang sudah harus kalian tonton.

Bong Joon-ho atau Joon-ho Bong ialah sutradara asal Korea Selatan yang lahir di Daegu, 14 September 1969. Ia pernah mengambil studi Sosiologi di Universitas Yonsei dan menjadi anggota klub film di sana. Setelah itu, ia menyelesaikan program dua tahun di Akademi Seni Film Korea, yang kemudian membuatnya memulai karier sebagai pembuat film. Beberapa kali mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik di berbagai ajang bergengsi baik di dalam dan luar Korea Selatan.



Barking Dogs Never Bite (2000)
Seorang pria bernama Yun-Ju terobsesi untuk mengejar karier sebagai dosen, tapi terkendala biaya karena syarat menjadi dosen mengharuskan ia menyogok. Sementara itu istrinya yang sedang hamil, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Di tengah rundungan masalah, Yun-Ju sering mendengar suara gonggongan anjing milik seorang tetangga di apartemen, yang membuatnya semakin kalut. Saat Yun-Ju mulai memutuskan untuk melenyapkan anjing tersebut karena merasa terganggu, ia tidak sadar kalau itulah awal mula rentetan kejadian yang akan menimpanya. Belum lagi ketika percobaan kedua untuk membunuh anjing lain, ia tepergok oleh Hyun-Nam, seorang gadis yang terobsesi ingin masuk televisi.

Memories of Murder (2003)
Diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1986-1991 di Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Diceritakan di sebuah kota kecil telah terjadi pembunuhan berantai, dengan petunjuk unik bahwa pelaku selalu mengincar perempuan berbaju merah yang berjalan di malam hari saat turun hujan. Kasus tersebut ditangani oleh Park Doo-man, detektif lokal yang temperamental dan cenderung sok tahu. Namun, karena tak kunjung menemukan petunjuk lebih, penyelidikan pun dibantu oleh Seo Tae-yoon, detektif senior yang dikirim dari Seoul.


The Host (2006)
Seekor monster aneh hasil mutasi akibat limbah tiba-tiba muncul di Sungai Han dan membuat kekacauan. Monster tersebut menangkap seorang anak gadis bernama Hyun-Seo dan membawanya ke dalam sungai. Saat mengetahui bahwa korban masih hidup, sementara kinerja pihak berwajib yang sangat lamban, dimulailah petualangan sebuah keluarga disfungsional untuk menyelamatkannya nyawa Hyun-Seo. 


Mother (2009)
Seorang ibu merawat anaknya seorang diri dan rela melakukan apa saja untuknya, termasuk ketika anaknya dituduh sebagai pelaku pembunuhan. Do Joon, remaja yang menderita gejala autis, menjadi tersangka utama pembunuhan seorang wanita karena di dekat mayat korban ditemukan bola golf kepunyaannya. Sang ibu pun berusaha mati-matian untuk membuktikan bahwa anaknya tidak bersalah.

Snowpiercer (2013)
Di masa depan, dilakukan sebuah eksperimen ilmiah untuk menghentikan pemanasan global. Namun, eksperimen tersebut telah gagal, dan akibatnya memusnahkan hampir seluruh makhluk hidup di bumi, kecuali segelintir orang yang selamat berkat Snowpiercer, kereta raksasa yang mengelilingi dunia. Di kereta itu ternyata ada kesenjangan yang nyata, di mana gerbong paling depan hanya boleh ditempati oleh para penumpang yang elit dan kaya. Suatu hari, kelompok penumpang kelas bawah berniat melakukan pemberontakan hingga terjadi kericuhan di dalam kereta tersebut.

Okja (2017)
Seorang gadis remaja yang tinggal di sebuah pegunungan di Korea Selatan bernama Mija terpaksa pergi ke New York demi menyelamatkan sahabatnya, Okja, hewan yang menyerupai babi raksasa. Okja adalah hewan hasil mutasi genetik yang dilakukan oleh perusahaan multinasional Miranda Corporation pada 10 tahun lalu. Perjuangan Mija menyelamatkan Okja pun dibantu oleh kelompok yang menamai diri mereka sebagai Front Pembebas Hewan.




Kalau dilihat-lihat, Bong Joon-ho selalu menyelipkan pandangan dan kritik sosial dalam setiap filmnya, seringnya disampaikan dengan gaya yang satire. Film pertamanya yang kutonton, Memories of Murder, secara implisit ingin menyindir kinerja kepolisian yang payah, baik itu dari sumber daya polisinya hingga sarana penunjang penyelidikan. Atau di film terbarunya Okja, yang menyindir sistem kapitalisme di bawah logo perusahaan besar. Selain itu, film karyanya selalu ditunjang oleh premis cerita yang menarik, apalagi dikemas dalam genre beragam mulai dari drama, thriller, hingga misteri. Belum lagi didukung dari segi sinematografi yang mumpuni. 

Jadi, jangan heran kalau sutradara sekaliber Quentin Tarantino (Pulp Fiction, Kill Bill) menyebut judul Memories of Murder dan The Host dalam Top 20 daftar film favoritnya sejak tahun 1992. Begitu pun dengan sutradara Edgar Wright (Shaun of the Dead, Hot Fuzz) yang menjadikan Memories of Murder sebagai salah satu favoritnya dan menyebut film tersebut masterpiece.

Nah, yang mana film favoritmu dari Bong Joon-ho?