Kedekatanku dengan Lampung bisa dibilang sudah mendarah daging. Sebelumnya aku sudah pernah cerita di sini kalau ibuku orang asli Lampung, keluarga besar juga banyak tinggal di sana. Aku ingat dulu, saat umurku masih belia, kami sekeluarga sering berkunjung ke rumah kakek di Panjang. Selain Pasar Panjang, salah satu tempat wisata yang selalu wajib kami singgahi waktu itu adalah Artomoro (kabarnya sekarang namanya jadi Central Plaza), itu pun kalau mal bisa disebut tempat wisata. Pernah sekali diajak main ke Pasir Putih, waktu masih umur belasan, itulah pertama kalinya aku mencicipi rasa air laut. Rasanya persis seperti rasa yang dihasilkan oleh keringat sendiri. Asin.

Lebih dari yang kuingat, aku nggak tahu apa-apa soal Lampung. Sampai akhirnya di awal tahun 2015, ada seorang teman yang mengirim chat via WhatsApp.

"Do, mau ikut liburan ke Pahawang?" 
"Pahawang? Di mana tuh?" 
"Pulau Pahawang. Lampung." 
"LOH, KOK AKU BARU DENGAR?"
Itulah awal mula aku mengenal pulau penuh pesona ini. 

Februari 2015, untuk pertama kalinya aku ke Lampung nggak bareng keluarga. Tujuannya pun beda, kali ini memang untuk liburan. Untungnya, jarak Palembang-Lampung mudah ditempuh, nggak sampai sehari dengan naik kereta api. Mungkin bisa lebih cepat seandainya baling-baling bambu sudah diproduksi massal.


Idealnya, destinasi ke Pulau Pahawang bisa ditempuh dari pusat kota Bandar Lampung, dengan lebih dulu pergi ke Pantai Klara yang ada di Kabupaten Pesawaran. Dari pantai yang menjadi titik penyeberangan itu, kita bisa menyewa perahu untuk menyeberang ke Pahawang. Opsi lainnya, kita juga bisa menyeberang dari Dermaga Ketapang di Kecamatan Padang Cermin.

Karena lewat jalur darat kereta api, rute kami mungkin agak berbeda. Dari Stasiun Tanjungkarang, kami dijemput (kebetulan ada kenalan) naik mobil menuju pusat kota Bandar Lampung, kemudian langsung menuju penginapan di Pantai Mutun. Dari tepi Pantai Mutun, kami menyeberang dengan perahu ke Pulau Tangkil, lalu berlanjut melewati Pasir Timbul tengah laut, sampai akhirnya tiba di Pulau Pahawang. Perjalanan di atas lautnya kurang lebih memakan waktu 1,5 jam. 


Jempolnya latah~

Sekadar informasi untuk yang belum tahu, lokasi Pulau Pahawang ini berada di Kecamatan Punduh Padada, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. 

Ketika tiba di pulau ini, pengunjung akan langsung disuguhi pemandangan alamnya yang asri, dengan latar hijaunya pepohonan, putihnya pasir pantai, serta warna air lautnya yang masih bening. Sebening wajah ukhti-ukhti yang sering dibasuh air wudu.


Snorkeling!

Hal yang nggak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke pulau ini tentu saja wisata bawah lautnya, terutama untuk pencinta snorkeling. Di bawah laut inilah kita bisa dimanjakan oleh pemandangan terumbu karang dan pertunjukan ikan-ikan kecil yang berwarna-warni. Konon, banyak yang bilang di sini juga terdapat Anemonefish atau lebih dikenal dengan nama Nemo, ikan ikonis di film Finding Nemo. Kalau kamu mau ke sini tanpa ikut menyelam ke laut, asli rugi! Beberapa lokasi snorkeling yang jadi favorit wisatawan di sekitar pulau ini antara lain yaitu spot di Pulau Pahawang Besar, Pulau Pahawang Kecil, Pulau Kelagian, dan Tanjung Putus.


Hold your breath longer and you can see something prettier~

Mungkin nggak berlebihan kalau Pahawang disebut surga yang tersembunyi karena pesona yang disimpannya. Hal ini juga dibuktikan ketika Pulau Pahawang sempat dinominasikan jadi salah satu dari sepuluh tempat wisata dalam kategori Most Popular Hidden Paradise (surga tersembunyi terpopuler) di ajang penghargaan Anugerah Pesona Indonesia 2016. 

Saat ini, Pulang Pahawang berpotensi kuat untuk jadi tujuan wisata utama di Lampung. Apalagi pemerintah Lampung sepertinya mendukung penuh pengembangan wisata Pulau Pahawang ini, terbukti dengan diadakannya FESTIVAL PAHAWANG 2016 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Pesawaran. Event yang digelar untuk pertama kali ini, bertujuan untuk memperkenalkan Pahawang kepada pencinta wisata bahari baik dari dalam dan luar negeri. 


Hal pertama yang aku pikirkan ketika pulang dari Lampung, aku berharap bisa ke Lampung lagi lain waktu. Entah untuk berkunjung ke saudara, atau menikmati panorama Pulau Pahawang lagi.

____________

P.S.
Semua foto yang terlampir adalah dokumentasi pribadi