Film, sebagaimana buku, adalah bentuk media hiburan. Namun, kadang kita nggak sadar, buku yang kita baca atau film yang kita tonton bisa memberikan lebih banyak dari apa yang kita sadari. Bukan cuma sekadar hiburan, tapi juga pelajaran tentang hal-hal. Aku bukan tipe penonton yang suka mengajak berpikir keras tentang pesan moral sebuah film karena daya ingatku cukup payah, kira-kira satu level di bawah Dory dalam Finding Nemo. Lagian kalau tujuan nonton film cuma untuk dapat pesan moral, ya mending nggak usah nontonlah, datang saja ke seminar-seminar motivasi.

Beberapa waktu lalu saat buka Youtube, aku nggak sengaja nonton video Presiden Jokowi waktu menyampaikan pidato di depan dewan kerja sama dan bisnis se-ASEAN tahun 2016. Di video itu, Jokowi menutup pidatonya sambil bilang, "Hasta la vista, baby!" dan membuat para hadirin di lokasi tertawa. Awalnya aku kurang mafhum di mana letak lucunya, sebelum akhirnya sadar kalau slogan itu dikutip dari film Terminator 2: Judgement Day (1991). Bukti kalau wawasanku soal film memang cetek. Hasta la vista berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya "sampai jumpa". Frasa ini diucapkan oleh Arnold Schwarzenegger sebelum menembak musuhnya dalam film tersebut. 

Dalam bahasa Inggris, kutipan semacam ini sering juga disebut proverbs yang artinya pepatah atau peribahasa atau adagium. Aku jadi ingat masih banyak proverbs yang dikutip dari beberapa film terkenal lain. Mulai dari "Why so serious?"-nya Joker di The Dark Knight (2008) sampai "Cherish your life!"-nya Jigsaw dalam serial film Saw. Dari sekian banyak pepatah film terkenal itu, aku tertarik untuk mengulas empat yang menurutku bermakna cukup penting. Seperti yang kubilang di awal paragraf tadi, terkadang sebuah film memberikan pelajaran lewat hal-hal kecil yang nggak kita sadari, termasuk lewat kutipan dua atau tiga suku kata.




Hakuna matata
Ungkapan ini berasal dari bahasa Swahili yang secara harfiah berarti "jangan khawatir" atau kadang diterjemahkan sebagai padanan istilah no problem (tidak masalah). Perusahaan film animasi Walt Disney mengenalkan pepatah ini ke ranah internasional lewat film The Lion King (1994). Dalam film animasi tersebut, seekor meerkat bernama Timon dan babi hutan bernama Pumbaa menasihati seekor singa kecil bernama Simba, agar ia melupakan masalah yang dihadapinya. Filosofi hakuna matata yang mengajarkan kita untuk senantiasa bersabar ketika didera masalah, sering kali menginspirasi netizen untuk menulis pepatah ini di bio Twitter atau Instagram mereka. Sebuah self-reminder, mungkin.



Carpe diem
Pepatah ini tentu saja bukan bersumber dari term "diem diem menghanyutkan", tetapi berasal dari bahasa Latin. Ditulis pertama kali oleh seorang penyair bernama Quintus Horatius Flaccus (65-8 SM), yang lebih dikenal dengan nama Horace. Frasa ini pertama kali ditemukan dalam bukunya yang berjudul Odes, dengan larik lengkap: Dum loquimur, fugerit invida Aetas: carpe diem, quam minimum credula postero. Dalam bahasa Inggris, carpe diem sering diterjemahkan menjadi seize the day yang berarti "petiklah/raihlah hari". Maknanya kurang lebih berupa imbauan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, dengan implikasi bahwa waktu kita di dunia ini begitu singkat. Banyak sekali buku, film, dan lagu yang pernah mengutip frasa ini, tapi pertama kali aku mendengarnya dalam film Dead Poets Society (1989) yang diperankan oleh Robin Williams. Di film tersebut, seorang guru bahasa Inggris bernama John Keating mengenalkan 'carpe diem' kepada murid-muridnya di Welton Academy, sebuah sekolah asrama khusus laki-laki. 



Aal izz well
"All is well" atau "Everything is gonna be alright" mungkin sudah menjadi wejangan umum sejak dulu, tetapi seolah menjadi konsep yang baru saat diparafrasa ulang dalam film bollywood berjudul 3 Idiots (2009). Rancho, tokoh utama dalam film, selalu mengatakan "aal izz well" dalam logat India setiap kali berada dalam situasi kritis. Sehabis menonton film yang diperankan oleh Aamir Khan ini, penonton pasti tahu kalau aal izz well bukan hanya sekadar ejaan asal yang melampaui konvensi, tapi menjadi jenis pemikiran yang dirumuskan tanpa kehilangan makna aslinya. Bahwa setiap kali menghadapi situasi yang berada di luar kendali, terkadang kita perlu menenangkan diri kita atau menghibur orang-orang di sekitar kita dengan mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja."



Manners maketh man
Peribahasa ini disebut-sebut dicetuskan pertama kali oleh pria bernama William Horman (1440-1535), kepala sekolah di Eton School, Inggris. Horman menulis sebuah buku berjudul Vulgaria, istilah dalam bahasa Latin, yang bisa diterjemahkan sebagai "ungkapan sehari-hari". Buku tersebut menjadi karya terpentingnya, yang memuat kumpulan peribahasa umum, dan salah satu di antaranya adalah manners maketh man. Walaupun terbilang frasa lama, tapi pepatah ini makin populer setelah disebut dalam film Kingsman: The Secret Service (2014) dan sekuelnya Kingsman: The Golden Circle (2017), yang diucapkan oleh tokoh Harry Hart/Galahad yang diperankan Colin Firth. Manners maketh man kurang lebih bermakna bahwa sopan santun adalah apa yang membedakan manusia dari binatang. Kosakata 'maketh' sendiri adalah ejaan Inggris kuno, yang sering juga ditemukan dalam karya-karya Shakespeare, dan maknanya sama dengan makes (membuat). Jadi secara harfiah, artinya sopan santun yang 'membuat' kita manusiawi.


Ada yang mau menambahkan peribahasa lain dalam film? Silakan komentar di bawah, ya!

___________

Sumber rujukan:
http://disney.wikia.com/wiki/Hakuna_Matata
https://www.phrases.org.uk/meanings/carpe-diem.html
https://www.importantindia.com/23792/manners-maketh-man/