"Membaca bukanlah gaya hidup yang baik," kata Aan Mansyur. Seorang pembaca buku akan menghabiskan banyak uang demi membeli buku bacaan. Seorang penulis harus membaca banyak buku bagus karena butuh referensi apa yang akan ditulis. Seseorang yang banyak membaca akan mengetahui banyak hal-hal baru, sekaligus akan membuatnya merasa sangat bodoh. Yang lebih parah lagi, seorang pembaca serius biasanya lebih suka menyendiri bersama buku-buku.

Sebelumnya, aku sudah pernah membahas alasan kenapa membaca buku. Salah satunya adalah biar bisa pamer koleksi buku pribadi di media sosial, meskipun untuk mencapai itu kita harus sedikit menjadi anti-sosial. Nggak apa-apa. 

Mungkin di luar sana juga sudah banyak yang menulis alasan mereka membaca buku. Jadi, kali ini aku mau membahas dari sisi kaum kiri. Alasan kenapa malas membaca buku. Omong-omong, selain malas membaca buku, aku juga malas menguras bak mandi. Karena menguras bak mandi itu sangat menguras tenaga.

Buku yang terlalu tebal
Pernah lihat buku yang tebalnya lebih dari 700 halaman dan membuat buku itu terlihat lebih mirip sebuah ganjalan ban mobil alih-alih sebuah buku? Aku pernah, dan hal naluriah pertama yang aku alami saat melihat buku setebal itu adalah... menguap. Aku nggak habis pikir kenapa banyak penulis yang suka menulis buku tebal-tebal. Padahal semakin tebal sebuah buku, biasanya berbanding lurus dengan semakin mahalnya harga buku itu. Untuk pembaca yang matanya nggak kuat dipakai baca lama-lama, ini adalah masalah krusial. Ayolah, The Power of Positive Thinking karya Norman Vincent Peale yang tebalnya cuma 128 halaman saja sudah terjual sekitar 20 juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam 41 bahasa, kenapa harus bikin buku supertebal?

dicomot dari sini


Buku yang sudah diadaptasi ke layar lebar
Aku sudah menonton film Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, 5 cm, dan sama sekali nggak tertarik untuk membaca versi novelnya. Walaupun buku dan film jelas medium yang berbeda, pustaka dan sinema, tapi secara garis besar premis ceritanya kan sama? Sebaliknya, kalau aku sudah membaca bukunya lebih dulu, lalu buku itu akan diangkat ke layar lebar, malah muncul ketertarikan untuk menonton filmnya. Ada yang pernah menonton Fight Club? Penulis asli bukunya, Chuck Palahniuk, bahkan lebih menyukai versi film yang digarap dengan apik oleh David Fincher daripada karyanya sendiri. Mendengar ini, alasanku di atas jadi terasa wajar, ya. Terlepas dari cara menikmati sebuah karya, percayalah kalau tulisan/teks punya efek magis tersendiri yang nggak terlihat lewat gambar visual. 

dicomot dari sini


Buku yang buruk
Karena pemilihan kata 'buruk' terdengar jahat, anggaplah yang kumaksud buruk di sini adalah buku yang kurang menarik. Kita pasti pernah membaca buku yang membuat kita bergumam "buku macam apa ini?" Alasannya bisa macam-macam. Ada yang ceritanya bikin kening berkerut, plotnya mudah tertebak, narasinya kaku, atau buku tersebut cacat secara teknis. Aku termasuk pembaca yang nyinyir untuk poin yang terakhir.

dicomot dari sini

Aku terganggu dengan penggunaan istilah bahasa Inggris yang kurang tepat. Lupa halaman berapa, tapi ada kata 'annoying' dan 'insecure' dalam kalimat yang kayaknya nggak pas.
"Di luar sana langit mulai berwarna nila. Senja sebentar lagi sudah habis. Berganti malam yang akan segera pekat." Nila? Yang tepat harusnya jingga!
Belum lagi, typo yang bertebaran. Yang harusnya 'excited', malah ditulis 'exited'. Mengubah malah ditulis merubah. Aduh.
Terus, ada pemakain "kan" yang nggak tepat. Ambil contoh, ada kalimat begini: "Kamu masih di situ, 'kan?" Kok, pakai apostrof? Ini keliru!

Menyebalkan, ya? Inilah salah satu dampak buruk membaca tadi; semakin banyak tahu aturan kepenulisan, jadi makin jeli melihat-lihat kesalahan. Dan, ini menyiksa. Mau protes pun nggak akan banyak berpengaruh. Makanya setiap ketemu buku yang masuk kategori 'buruk', cuma bisa ingat petuah bijak ini: when you have nothing good to say about something, you better silence. Cari aman.

Antrian bacaan menumpuk

Ini alasan yang paling nggak keren. Punya banyak buku, tapi nggak punya banyak waktu untuk membacanya. Punya waktu untuk nongkrong di mal, tapi nggak punya waktu untuk baca buku? Ya, berarti memang dari sananya malas. 

Kira-kira itulah alasan kenapa aku malas baca buku. Omong-omong soal baca buku, mungkin banyak yang belum tahu soal ini. Jadi, tepat pada tanggal 1 Maret 2016, Kepala Perpustakaan Nasional mengangkat Najwa Shihab sebagai "Duta Baca Indonesia" selama lima tahun ke depan. Tahu kenapa? Tentu saja karena beliau nggak mengamini 4 alasan malas baca buku seperti di atas. 

Membeli banyak buku memang bukanlah gaya hidup yang patut dibanggakan. Bisa bikin orang jadi miskin. Beli buku sama saja kayak beli sepatu. Bedanya, buku bisa dibaca banyak orang, sedangkan sepatu biasanya cuma dipakai oleh satu orang. Buku bisa mengajak kita keliling dunia, sepatu belum tentu.

Pada akhirnya, suka atau malas kita membaca buku, kutipan berikut layak untuk diingat.

If you feel you’re stupid, read books. If you think you’re smart, read more books.