Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tentu kita sudah nggak asing dengan kalimat di atas. Ya, tulisan tersebut adalah bunyi butir ketiga Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia disumpah oleh para pemuda Indonesia, 28 Oktober berpuluh-puluh tahun lalu sebagai bahasa persatuan. Namun, kali ini, bukan itu yang ingin kubahas.

Sebentar... mau flashback dulu.

Pada suatu pagi di bulan Ramadan, sebagai remaja gaul pada umumnya, aku membuka jejaring sosial Facebook. Di halaman beranda, aku membaca status dari sebuah halaman education website Bahasa Kita yang isinya kurang lebih seperti ini: "SALAT bukan shalat atau solat." Status tentang tata bahasa EYD.
Aku pun tergelitik untuk membaca puluhan komentar pada status tersebut. Namun, seketika aku terbelalak saat melihat ada begitu banyak komentar kontra menyahuti status itu.

"Yang benar tuh shalat."

"Seharusnya sih SHOLAT. Sesuai dengan penulisan Arab-nya SHOD, LAM ALIF, TA MARBUTOH. Kalau SALAT, penulisan Arab-nya SIN, LAM ALIF, TA MARBUTOH."

"Yang penting pelaksanaannya, enggak usah ribut soal bahasa."

"Gue pilih nulis SHOLAT."

"Yang benar tuh SHOLAT, kalau SALAT itu sayuran."

"Yang bikin kamus bahasa Indonesia ini jangan-jangan orang kafirin dan musyrikin, yang sengaja mengubah-ubah arti dan makna setiap kata."


Aku cuma bisa mendesah panjang membaca komentar-komentar di atas. Ternyata, masih ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang 'mengaku' mencintai negaranya, namun mengabaikan perkembangan bahasanya. Ck-ck-ck.
Aku menelusuri lagi barisan komentar di sana, rupanya ada juga beberapa kicauan 'memihak' yang sekilas kubaca dan membuat aku mengangguk-angguk setelahnya.

"Kalau kata para ahli bahasa Indonesia, sholat menjadi salat, ya sudah... Berarti itu yang ditetapkan dalam bahasa baku kita. Enggak usah ngeyel!"

"Pantas nilai bahasa Indonesia anak sekolah zaman sekarang anjlok semua. Diberitahu yang benar, tidak terima."

"Shalat adalah transliterasi dari bahasa Arab, sedang salat adalah kata serapan yang sudah diindonesiakan. Seperti kata taat, kalau transliterasi asli dari bahasa Arab, adalah tha'at atau tho'at."

"Begini Saudaraku. Saya seorang Muslim yang tinggal di Indonesia. Sebagai seorang Muslim, saya ikuti aturan-aturan Islam. Sebagai bangsa Indonesia, saya ikuti aturan-aturan di Indonesia. Ini awalnya mengenai bahasa Indonesia, bukan bahasa Arab. Karena Islam menggunakan bahasa Arab, dan kita menggunakan bahasa Indonesia. Saya melihat ini menjadi bukan sekadar serap-menyerap bahasa. Ketika ideologi merasa tersentuh, ada kalanya berubah menjadi egois."

Tanggapan yang bagus, saudaraku! 

Jadi, begini... kita tahu, Indonesia bukanlah negara Arab. Indonesia hanya negara yang masyarakatnya (kebetulan) mayoritas beragama Islam—yang menganut kitab suci (yang diturunkan di/berbahasa) Arab.
Kalau saja kita rajin atau sesekali saja meluangkan waktu untuk membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita pasti akan menemukan ada banyak bahasa Arab yang sudah kita adaptasi, namun dalam penulisannya seringkali kita salah kaprah. Contoh: ramadan, takwa, korban, ustaz, azan, dll. Intinya, Semua bahasa Arab yang diindonesiakan, sudah disesuaikan dengan pelafalan lidah orang Indonesia. 

Nggak sudi berbahasa Indonesia yang baik dan benar? 
Artinya...
a. Kamu mengingkari Sumpah Pemuda
b. Kamu disinyalir sebagai kaum 4Lay yang mengenaskan
c. Mungkin kamu perlu dideportasi ke... Arab


Selamat hari Sumpah Pemuda!